Sepenggal kalimat yang diucapkan Presiden Soeharto saat itu disambut isak tangis bahagia ratusan ribu demonstran yang memadati Gedung DPR/MPR, Jakarta, tepat pukul 09.00 WIB. Suasana haru biru beriringan dengan sorak sorai massa yang telah turun ke jalan sejak pertengahan tahun 1997.
Gegap gempita dirasakan masyarakat di hampir di seluruh penjuru tanah air yang turut merasakan dampak krisis moneter, krisis yang juga mendera kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan Asia Selatan. Dari waktu ke waktu sepanjang 1997-1998, perekonomian Indonesia makin terpuruk, korupsi menguasai seluruh lini birokrasi, rakyat marah dan tak puas dengan kebijakan pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan diperkuat dengan surat Harmoko untuk Soeharto tertanggal 20 Mei 1998, yang ditandatangani 15 orang termasuk 14 menteri, berisi: Soeharto harus mengundurkan diri dari jabatan Presiden RI karena Jakarta tidak aman lagi.
BJ Habibie yang saat itu menjadi Wakil Presiden mengetahui informasi Soeharto akan mundur dari Menteri Sekretaris Negara Saadillah Mursjid lewat sambungan telepon. Saat itu malam tanggal 20 Mei ketika Habibie menelepon Saadillah untuk berbicara dengan Soeharto, namun ditolak.
Saadillah mengatakan, Soeharto akan mengumumkan pengunduran diri esok pagi, 21 Mei pukul 09.00 WIB, dari rencana semula 23 Mei. Habibie tak sempat lagi berbicara dengan Soeharto terkait pengunduran diri itu kecuali bertemu di Ruang Credential Istana Merdeka, Jakarta, mendengar langsung pidato pemberhentian sang presiden.
"Sesuai dengan Pasal 8 UUD-45 maka Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. H. BJ. Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden Mandataris MPR 1998-2003," kata Soeharto dalam pidatonya.
"Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia ini, saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangannya. Semoga bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 45-nya," ujar Soeharto.
Detik ini 17 tahun yang lalu, Soeharto meninggalkan kursi kekuasaan. Cita-cita reformasi belum tercapai dan masih akan terus dilanjutkan. (rdk)