Yusuf Arifin
Menjadi wartawan sejak kuliah. Pernah bekerja untuk ABC, BBC, dan Manchester City. Penggemar sepakbola dan kriket.

Krisis yang Membebaskan

Yusuf Arifin, CNN Indonesia | Jumat, 22/05/2015 12:38 WIB
Krisis yang Membebaskan Suasana kerusuhan yang terjadi di Jakarta Mei 1998. (Patrick AVENTURIER/Gamma-Rapho via Getty Images))
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 1997 adalah sebuah tahun yang menyesakkan, berat, penuh derita buat Indonesia. Annus horribilis.

Krisis moneter berskala tsunami menghancurkan landasan perekonomian Indonesia. Nilai Rupiah terjun bebas tak terkendali. Pertumbuhan ekonomi anjlok hingga diperpindahan tahun menjadi sangat minus. Utang negara melonjak begitupun inflasi. Harga BBM dan pangan membubung tinggi. Perekonomian Indonesia sekarat.

Kemampuan ekonomi sektor informal untuk memberi perlindungan dan menopang hajat hidup rakyat jelata dari deraan gejolak ekonomi dunia yang begitu dikagumi para akademisi tak lagi banyak berguna. Leher tercekik dan perut mereka sudah rata dengan tulang oleh kencangnya tarikan ikat pinggang. Nafas tinggal satu-satu.

Sementara kelas menengah mulai terengah-engah. Karpet tebal yang memberi mereka buai kenyamanan hidup dan alas mimpi bagi sebuah mobilitas vertikal direnggut tiba-tiba dari bawah kaki mereka.

Mereka dibenturkan pada realita bahwa (pertumbuhan) ekonomi yang dijaga oleh birokrasi yang korup, kronisme, favoritisme, dan kapitalisme semu yang selama ini mereka nikmati, seperti bangunan dengan fondasi menghunjam ke pasir, sangat rapuh.

Padahal perekonomian Indonesia tinggallah satu-satunya pilar kehidupan yang memberikan kenyamanan. Sekaligus raison d’etre bagi pemerintahan Suharto saat itu.

Bidang kehidupan lain adalah cerita tentang kemampatan katup ekspresi. Ekspresi sosial dan politik, seni dan budaya, dan keagamaan dikontrol habis oleh penguasa. Berbeda dengan penguasa maka anda harus berbisik-bisik dan sembunyi-sembunyi untuk mengekspresikannya. Menjadi yang terasing, terkucil, dan lebih parah lagi penjara dan teror hadiahnya.

Untuk waktu yang lama, katakanlah sejak Suharto naik menjadi penguasa tahun 1968 dan menjalankan kebijakan pembangunan ekonominya dengan menyumbat-mengontrol katup ekspresi sosial, politik, seni, budaya, dan keagamaan, setiap riak dan gejolak selalu bisa diatasi. Kombinasi kebijakan kenyangkan perut, hadirkan mimpi akan kenyamanan hidup, dan tangan besi (mungkin ini yang paling dominan) terbukti efektif.

Ada yang mencoba melawan. Tapi dihadapkan pada pilihan antara (buai) kenyamanan hidup dan terror, seperti dihadapkan pada bukan pilihan. Mereka yang melawan banyak yang kemudian menjadi apatis dan sinis menghadapi kehidupan di Indonesia.

Krisis moneter tahun 1997 dan memuncak di awal tahun 1998 bisa jadi menghadirkan kesengsaraan yang tak terperi. Terutama bila mengingat kerusuhan-kerusuhan brutal yang menyusul kemudian.

Tetapi sungguh ia juga jadi berkah. Ia kejam tetapi meruntuhkan raison d’etre kepemimpinan Suharto yang sudah terlalu lama: bahwa pembangunan ekonomi dengan menyumbat katup ekspresi sosial, politik, seni, budaya, dan agama adalah sebuah kesalahan.

Penyumbatan itu menyebabkan ekspresi kritik dan kontrol –anak dari ekspresi sosial, politik, seni, budaya, dan keagamaan-- menjadi hilang. Padahal kritik dan kontrol adalah salah dua pilar fundamental untuk menciptakan sebuah pemerintahan yang bersih dan transparan.

Dan ketika ekspresi kritik dan kontrol disumbat, ia akan mencari jalan koreksinya sendiri seperti yang dihadirkan oleh krisis moneter itu. Sebuah keniscayaan dalam wujud yang dahsyat, kejam, dan mematikan.

Krisis moneter menyatukan kelas menengah dan rakyat jelata. Bahwa mereka satu kesatuan yang tak punya apa-apa. Juga memberi semua alasan yang diperlukan untuk bergerak dan merebut yang selama ini tak mereka miliki: ekspresi sosial, politik, ekonomi, seni, budaya, dan keagamaan.

Ketika masyarakat tak lagi mempunyai apapun, mimpipun tidak, tidak ada lagi ketakutan akan kehilangan. Dan ketidakpunyaan itu, anda tahu, membebaskan.

Orang boleh berbicara tentang manipulasi politik, pertarungan antar elit, kerentaan sebuah rejim, dan lain sebagainya seputar peristiwa Mei 17 tahun silam. Tak bisa dihindari itu pasti ada. Itulah hidup. Tetapi tanpa adanya kesatuan kelas menengah dan rakyat jelata yang tak lagi punya apa-apa sebagai bahan bakarnya, mustahil revolusi terjadi.

Apakah kehidupan sekarang ini kemudian jadi lebih baik atau lebih buruk, selalu bisa diperdebatan. Penilaian toh selalu terkungkung oleh waktu dan sudut pandang.

Tetapi untuk sekadar bisa berdebat dan mengekspresikan itu semua secara terbuka sudah merupakan kemewahan tersendiri dibanding 17 tahun silam dan sebelumnya. Katup itu sudah terbuka. Anda bisa mengritik presiden secara terbuka misalnya, tanpa harus khawatir dengan akibatnya. Anda bisa berbeda dengan negara (pemerintah) tanpa khawatir pengucilan dan penjara. Mobilitas vertikal sosial dan politik bisa menjadi milik siapa saja.

Selama katup untuk melakukan kritik dan kontrol tidak tersumbat, selalu ada harapan bahwa krisis dengan ekses yang mengerikan seperti tahun 1997/1998 bisa dihindarkan. Selama katup untuk melakukan kritik dan kontrol tidak tersumbat, tidak akan ada pemimpin yang bisa berbuat sewenang-wenang. Selama katup untuk melakukan kritik dan kontrol tidak tersumbat, meritokrasi disegala bidang akan lebih banyak berperan. Selama katup untuk melakukan kritik dan kontrol tidak tersumbat, selalu ada harapan untuk hidup yang lebih baik.
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS