Liputan Khusus

Undurkan Diri, Soeharto Berjalan Santai Tinggalkan Istana

Resty Armenia, CNN Indonesia | Kamis, 21/05/2015 23:29 WIB
Undurkan Diri, Soeharto Berjalan Santai Tinggalkan Istana Soeharto saat umumkan pengunduran dirinya di Istana Merdeka, 21 Mei 1998. (Maya Vidon/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masih teringat di benak Ali Anwar akan apa yang terjadi tepat hari ini 17 tahun yang lalu. Pada saat itu, ia masih menjadi wartawan foto salah satu media nasional yang bertugas di Istana Kepresidenan.

Malam sebelumnya, 20 Mei 1998, Ali mendapatkan informasi bahwa keesokan paginya, 21 Mei, Presiden Soeharto akan mengumumkan Kabinet Reformasi. Dini hari, ketika bersiap untuk tidur, ia mendengar kabar bahwa Ginanjar Kartasasmita dan 14 menteri lainnya mengundurkan diri dari jabatannya. Mereka menilai Komite Reformasi sekaligus pelantikan menteri baru tidak akan bisa menyelesaikan persoalan krisis hebat kala itu karena mayoritas orang yang ditunjuk Soeharto tidak bersedia menduduki posisi Komite Reformasi.

Keesokan harinya, sekitar pukul 08.00 WIB, Ali dan wartawan lainnya tiba di Kompleks Istana Kepresidenan. Tak lama setelah kedatangannya, Ali melihat Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie tiba di halaman samping Istana Merdeka menumpangi mobil bernomor polisi RI-2 bersama iring-iringan pengawalan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).


Selang beberapa menit setelah kedatangan Habibie, Presiden Soeharto tiba di tempat yang sama dengan mobil bernomor polisi RI-1 didampingi putri sulungnya Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut). Sang Kepala Negara mengenakan pakaian sipil harian berupa safari lengan pendek berwarna abu-abu gelap.

Sekitar pukul 09.00 WIB, Presiden Soeharto menerima kedatangan Ketua MPR/DPR Harmoko beserta empat wakil Ketua MPR/DPR yakni Syarwan Hamid, Abdul Gafur, Fatimah Ahmad, dan Ismail Hasan Metareum. Seluruh pimpinan DPR/MPR itu kemudian diajak memasuki Ruang Jepara.

Beberapa menit setelah mengantar para tamunya ke Ruang Jepara, Soeharto meminta mereka untuk tetap berada di ruangan itu. Sementara itu, ia bersiap berjalan menuju Credentials Room.

Dengan langkah mantap Soeharto memasuki ruangan di mana ia biasa menerima tamu kenegaraan dan mengumumkan suatu hal yang sangat penting itu. Ia menghampiri mikrofon yang telah disiapkan dan memulai pidato pengunduran dirinya.

(Baca: Jejak Sunyi di Jalan Cendana)

"Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945, dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998.

Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia, saya sampaikan di hadapan Saudara-saudara pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang juga adalah pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Sesuai dengan Pasal 8 UUD ’45, maka Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. H. BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden Mandataris MPR 1998-2003," ujar Soeharto kala itu.

(Baca: Kediaman Cendana setelah 17 Tahun Soeharto Turun)

Suasana dalam Credentials Room begitu hening. Suara Soeharto ketika membacakan pidato pengunduran dirinya pun, menurut Ali, sangat tenang. Wajah Presiden yang memimpin negeri selama 32 tahun itu tak menyiratkan segala masalah dan beban yang menyelimuti dirinya.

"Waktu berpidato tuturnya tidak tegang, namun juga tidak santai. Biasa-biasa saja. Memang Pak Harto orang hebat menurut saya," kata Ali ketika dihubungi CNN Indonesia via sambungan telepon, Kamis (21/5) sore.

(Baca: Komandan Paspampres Dicopot karena Soeharto Didemo di Jerman)

Namun, imbuh Ali, berbeda dengan Soeharto, orang-orang yang berada di Credentials Room yang menyaksikan peristiwa bersejarah itu, termasuk tokoh nasional dan pewarta yang meliput, terlihat cukup tegang.

"Pak Harto baca pidato pengunduran dirinya, semuanya tegang. Wartawan sendiri kaget. Kami dapat informasinya kan beliau akan mengumumkan Kabinet Reformasi," kata Ali.

Setelah Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya, Habibie langsung maju ke depan mikrofon yang sama dan mengucapkan sumpah di hadapan Mahkamah Agung. Soeharto lantas menghampiri Habibie seraya menjabat tangan pria yang resmi menggantikan kepemimpinannya itu.

(Baca: Suasana Genting di Cendana, Malam sebelum Kejatuhan Soeharto)

Ia pun meninggalkan Credentials Room dan kembali ke Ruang Jepara untuk memberi tahu para pimpinan MPR/DPR bahwa upacara pengunduran diri dan serah terima jabatan presiden telah selesai dilakukan.

Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal Wiranto mengambil alih mikrofon yang masih berada di Credentials Room untuk menyatakan bahwa ABRI akan tetap menjaga keselamatan dan kehormatan para mantan Presiden Mandataris MPR, termasuk mantan Presiden Soeharto beserta keluarga.

Sementara itu, Soeharto langsung melenggang keluar dari Ruang Jepara. Ali menyatakan, ia berjalan keluar dari Istana Merdeka dengan santai melalui tangga berkarpet merah di sisi kanan. Bersama Tutut, ia bertolak menuju rumahnya di Jalan Cendana melalui gerbang utama Istana Kepresidenan.

BACA FOKUS: Mengingat Kembali Reformasi (hel)