Liputan Khusus

Komandan Paspampres Dicopot karena Soeharto Didemo di Jerman

Rosmiyati Dewi Kandi, CNN Indonesia | Kamis, 21/05/2015 23:00 WIB
Komandan Paspampres Dicopot karena Soeharto Didemo di Jerman Ribuan mahasiswa di Gedung DPR/MPR, 21 Mei 1998. (Paula Bronstein/Liaison)
Jakarta, CNN Indonesia -- Museum Zwinger di Kota Dresden, Jerman, menjadi saksi bisu ketika Presiden Soeharto harus berhadapan dengan demonstran tanpa pengawalan ketat dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Peristiwa itu terjadi pada 5 April 1995 saat Soeharto melakukan kunjungan kerja ke Jerman.

Letnan Kolonel (Letkol) TNI (Purnawirawan) I Gusti Nyoman Suweden menjadi saksi betapa dekatnya jarak Soeharto dengan para demonstran yang diperkirakan berjumlah 100-150 orang tersebut. "Itu adalah kejadian paling krusial yang saya alami saat menjadi pengawal pribadi Pak Harto," tutur Suweden saat berbincang dengan CNN Indonesia di ruang kerjanya, Gedung Granadi, Jakarta, Kamis (21/5).

Suweden masih ingat betul ketika itu dia berdiri persis di sebelah kiri mendiang Tien Soeharto; sang presiden berada di sisi kanan Tien sambil tak melepas memegangi tangan istrinya; Syafri Syamsuddin mengapit Soeharto di bagian kanan; baris paling depan berjalan seorang diri pengawal Soeharto lainnya; sedangkan di belakang ada ajudan bersama pengawal khusus.


(Baca: Soeharto Sampai Mati Tak Mau Bertemu Habibie)

Pelajar yang mendemo Soeharto di Jerman itu menuntut soal pembebasan Timor Timur. Soeharto saat itu tetap terlihat tenang meskipun terkejut karena seolah-olah berhadapan langsung dengan demonstran. "Kami pakai strategi pengamanan presiden, kami selalu siap jadi perisai hidup bagi presiden, siapa pun presidennya karena itu memang tugas kami," ujar Suweden.

(Baca: Kompleks DPR: Tempat Paling Aman Jelang Soeharto Jatuh)

Brigadir Jenderal TNI Jasril Jakub dicopot dari jabatan sebagai Komandan Paspampres saat itu sepulangnya Soeharto ke tanah air. Panglima TNI Jenderal Feisal Tanjung yang menjabat periode 21 Mei 1993-12 Februari 1998 menilai bahwa Jasril Jakub telah gagal menjaga dan memastikan pengamanan terhadap presiden.

(Baca: Jejak Sunyi di Jalan Cendana)

Posisi Jasril yang ditugaskan sejak tahun 1993 langsung diambil alih Mayor Jenderal TNI Sugiono dengan masa jabatan 1995-1997. "Menjadi pengawal dan pasukan pengamanan memang harus siap risiko karena kami harus melindungi jangan sampai terjadi apa-apa dengan presiden," katanya.

(Baca: Kediaman Cendana 17 Tahun setelah Soeharto Turun) (rdk)