Makanan Mengandung Boraks & Formalin di Jalan Sabang Ditarik

Lalu Rahadian, CNN Indonesia | Jumat, 22/05/2015 11:40 WIB
Makanan Mengandung Boraks & Formalin di Jalan Sabang Ditarik Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DKI Jakarta melakukan inspeksi mendadak dan menemukan kandungan zat kimia berbahaya dalam beberapa jenis makanan yang dijual di Kampung Lima, Sabang, Jakarta Pusat, Jumat (23/5). (CNN Indonesia/Lalu Rahadian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kota Jakarta Pusat akan menarik makanan yang mengandung formalin dan boraks di pusat wisata kuliner Kampung Lima, Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Sanksi belum akan diberikan kepada para pedagang yang menjual makanan mengandung bahan berbahayatersebut.

Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede mengatakan, pembinaan akan dilakukan pada para pedagang tersebut. Namun jika setelah dibina, mereka tetap menjual makanan mengandung bahan berbahaya, mereka dilarang berjualan lagi.

"Nanti kami ingatkan dahulu, penindakannya jika setelah dilakukan pembinaan masih ditemukan ada pelanggaran, kita bisa cabut izin berjualannya," kata Mangara usai inspeksi mendadak di Jalan Sabang, Jumat (22/5).


Para pedagang tersebut tetap diperbolehkan untuk berjualan. Namun makanan yang sampelnya positif mengandung formalin dan boraks akan ditarik.

Dalam sidak yang digelar hari ini bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan hari ini, ditemukan tahu dan kwetaiu berformalin dan ketupat mengandung boraks. Jenis tahu yang sampelnya mengandung formalin adalah tahu siomay, tahu putih, dan tahu kuning. (Baca juga: BPOM Temukan Ketupat Mengandung Boraks di Kuliner Sabang)

Selain menarik makanan yang sampelnya positi berformalin dan berboraks itu, petugas juga akan menelusuri asal bahan makanan tersebut. Para pedagang juga diimbau agar tidak membeli bahan makanan yang diduga mengandung bahan berbahaya.

"Setelah tes laboratorium selesai dilakukan kita akan lakukan investigasi dan wawancara terhadap para pedagang mengenai di mana mereka membeli bahan makanan tersebut. Kita tanya sumber pembeliannya dan nanti akan ditelusuri lagi," kata Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan DKI Jakarta Dewi Prawita Sari. (sur/sur)