"Mekanismenya dari hasil laporan audit dibentuk panja. Panja nanti menentukan bagaimana sikap Komisi II DPR termasuk masalah anggaran. Itu kan ada potensi kerugian negara yang cukup besar," ujar Wakil Ketua DPR Fadli Zon di kawasan Cikini, Jakarta, kemarin.
Fadli Zon pun mengaku kaget dengan temuan tersebut. "Potensi ini lumayan mengagetkan karena ternyata KPU (Komisi Pemilihan Umum) tidak siap dalam melaksanakan Pemilu yang kemarin 2014," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, pihaknya kini tengah mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melakukan audit dana. Alasannya, anggaran penyelenggaraan pemilihan kepala daerah yang semula direncanakan sekitar Rp 4 triliun membengkak menjadi Rp 6,7 triliun untuk 269 daerah.
Beberapa pihak menyebut, permintaan audit terhadap KPU oleh BPK lebih bernuasa politis. Salah satunya karena KPU yang masih alot menyikapi keikutsertaan partai yang berkonflik agar tetap bisa ikut pilkada serentak.
Ketua BPK Haris Azhar Aziz yang mantan politisi Golkar membantahnya. Haris menegaskan, dia bukan lagi menjabat sebagai kader Partai Golkar dan itu artinya Partai Golkar tak memiliki hak untuk memerintah dirinya. "Yang bisa memerintah saya adalah undang-undang," ujar Haris.
Haris pun menegaskan jika keputusan-keputusan yang diambil oleh BPK bukan ditentukan oleh dirinya seorang, melainkan diambil oleh sembilan orang. Jika ada lima orang yang tidak setuju dengan langkah yang diambil pimpinan maka langkah tersebut tak akan berjalan.
"Kami konsekuen karena kolektif kolegial. Kalau lima orang tidak setuju maka tidak bisa. Keputusan di BPK diambil bukan oleh saya sendiri tapi oleh sembilan orang," ujarnya menegaskan.
(hel)