"Ini jaringan Nigeria, yang sebelumnya sudah diungkap. Saat ini sindikat Nigeria kembali eksis, dimana sindikat China dan Iran sudah redup," ujarnya di gedung BNN, Jakarta, Jumat (12/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, modus yang digunakan oleh jaringan internasional kali ini adalah dengan menggunakan jejaring sosial Facebook untuk melakukan perkenalan.
Deddy menyebut, sabu yang disita BNN kali ini adalah berasal dari Guangzhou, China. Hal itu dikarenakan jenis kualitas sabu yang tergolong jenis yang terbaik di dunia. "Saya yakin dari sana, saat saya ke sana, saya lihat banyak bandar-bandar nigeria berkeliaran," ujarnya.
Dia menjelaskan, banyaknya pelabuhan-pelabuhan tikus yang tersebar di seluruh Indonesia merupakan salah satu pintu masuk utama peredaran narkoba. "Mereka kirim ke Malaysia, pas di Indonesia disebar lewat jasa paket pengiriman," ujarnya.
Deddy menilai, keuntungan dari penjualan narkoba tersebut langsung dikirimkan ke negara asal tersangka untuk keperluan pribadi. "Hasil pencucian uangnya sedang diungkap. Uangnya digunakan untuk bangun toko, hotel, motel. Makanya banyak orang kaya baru dari hasil bisnis narkoba di Indonesia.
Selanjutnya, atas perbuatannya, para tersangka dikenakan pasal 114 Jo 132 ayat satu dan pasal 112 ayat 2 Jo 132 ayat satu. Sedangkan untuk tersangka WN Nigeria akan dikenakan pasal tambahan yaitu pasal 113 ayat 2 Jo 132 ayat satu dengan hukuman maksimal hukuman mati. (meg)