Melalui The Lancet, sekelompok akademisi dan aktivis yang berkompeten di bidang kesehatan masyarakat, narkotik, kemanusiaan, dan hak asasi manusia mengkritik strategi penanganan Jokowi dalam perkara narkotik dan memintanya membentuk komite khusus soal narkotik, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lain (Napza) di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para akdemisi dan aktivis global khawatir metode pengambilan data oleh BNN cenderung tidak representatif, sebab ada perbedaan antara jenis Napza dan frekuensi serta pola pemakaiannya yang tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi permasalahan penggunaan Napza.
Tak hanya itu, penahanan dan rehabilitasi paksa dinilai terbukti tak efektif dalam mengurangi jumlah pengguna Napza. "Pendekatan 'perang melawan narkotik' seperti ini telah terbukti gagal di berbagai negara lain di dunia, bahkan menyebabkan lebih banyak masalah dibanding membantu menyelesaikan masalah” ujar Prof. Dr. Irwanto, pengamat dan peneliti masalah narkotik dan HIV.
Sementara Dr. Ignatius Praptoraharjo, peneliti dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada menuturkan ada 'kewajiban etis' dalam aksi penanganan penggunaan Napza di Indonesia.
"Kebijakan yang ada tidak menyediakan ruang dan peran bagi program kesehatan secara bermakna. Dana kita yang terbatas justru digunakan untuk pendekatan berbasis rasa takut yang akan mendorong orang-orang yang membutuhkan perawatan semakin jauh dari program kesehatan," ujarnya.
Oleh sebab itu pemerintah diminta menciptakan proses yang transparan dan melibatkan mitra bestari ahli secara nasional sebelum menggunakan data untuk menentukan bahwa Indonesia sedang terancam oleh situasi 'darurat narkotika nasional.'
Surat terbuka yang dimuat The Lancet itu turut dibuat dan ditandatangani oleh sekelompok ahli kesehatan dan akademisi Indonesia, antara lain dari Pusat Penelitian HIV/AIDS Atma Jaya, Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana, Departemen Sosiologi Universitas Negeri Jakarta, cendekiawan Muslim dan Ketua Konferensi Indonesia untuk Agama dan Perdamaian, Persaudaraan Korban Napza Indonesia, dan KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan).
Baca juga:
Barcelona Juara Liga Champions 2014/2015
Treble Bersejarah untuk Barcelona (meg)