Sementara ke arah timur dan tenggara, Jatinegara sudah dibangun oleh Meester Cornelis Senen. Ke arah barat adalah kawasan Kota Tua, tempat pusat pemerintahan era VOC pertama kali masuk ke Batavia.
Menurut sejarawan Asep Kambali, sekitar tahun 1940 kawasan selatan mulai dirancang untuk jadi kota satelit. Pasca kemerdekaan, rencana ini dilanjutkan Bung Karno. (Ikuti Fokus: Selamat Ulang Tahun Jakarta!)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menghidupkan jalan penghubung ini, Bung Karno memindahkan sentra ekonomi dan terus tumbuh hingga sekarang. Sebagai kota satelit, kawasan ini kemudian dibagi menjadi beberapa blok. Dari mulai Blok A hingga Blok S. Yang paling terkenal hingga saat ini adalah Blok M karena kawasan ini menjadi pusat bisnis, perbelanjaan serta terminal dalam kota Jakarta.
Sejarawan Alwi Shahab mengatakan, CSW bertugas membangun real estate di kawasan yang saat ini disebut Kebayoran Baru. Saat pertama kali dibangun, Blok M dan seluruh kawasan Kebayoran Baru terdiri dari rawa-rawa, belukar dan pepohonan. “Dulu daerah Kebayoran ini daeraha pinggiran sekali, masih sepi,” kata Alwi kepada CNN Indonesia.
Kawasan Blok M Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Pembangunan Blok M dan Kebayoran Baru menurut Alwi merupakan awal Jakarta menyediakan fasilitas perkotaan yang terencana dan terpadu. Kementerian Pekerjaan Umum yang baru dibentuk langsung menangani pembangunan kawasan ini setelah Belanda hengkang dari Indonesia. (Baca juga: Buah Karya 'Pajak Lendir' Era Bang Ali Pimpin Jakarta)
Menurut Alwi. pada akhir tahun 1950, sekitar dua pertiga wilayah Kebayoran Baru sudah dibuka. Sebanyak 3.000 unit rumah sudah terbangun. Sementara 1.300 meter persegi jalan sudah siap dan 30 ribu saluran air sudah terpasang.
Saat itu sudah dibangun delapan sekolah yang dibangun di Kebayoran Baru. Setahun kemudian rumah yang sudah dibangun berjumlah 3.365 rumah. Pembangunan vila juga mulai direncanakan di lahan seluas 110 hektar beserta pertokoan dan gedung-gedung sekolah.
“Pemekaran wilayah Kebayoran telah menghasilkan pusat pertumbuhan di selatan kota,” kata Alwi. Ia menggambarkan, pada 1960-an jalan-jalan di Kebayoran Baru sangat nikmat sekali. Selain tak dijumpai kemacetan, rumah dan vila-vila mungil merupakan pemandangan yang indah bagi penduduk Jakarta. (sip)
Kawasan Blok M Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)