Liputan Khusus Ultah Jakarta

Perkumpulan Gelap di Loji-Loji Freemason Jakarta

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 22/06/2015 15:40 WIB
Perkumpulan Gelap di Loji-Loji Freemason Jakarta Gedung Kimia Farma, di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 20 Juni 2015. Dulu gedung ini dipakai sebagai salah satu tempat bertemunya kelompok Freemason di Batavia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- “Orang Belanda dan Eropa yang berlayar ke Indonesia pada abad ke-19 biasanya masuk golongan bermasalah dalam bidang bisnis atau militer dan terpaksa meninggalkan kampung halaman.” - Adolf Heuken

Adolf merupakan seorang Pastor asal Jerman yang merekonstruksi banyak sejarah Batavia melalui penelitian-penelitiannya. Pada buku Gereja-gereja Tua di Jakarta, Adolf menulis, orang-orang Eropa yang datang ke Batavia sekitar abad ke-18 dan ke-19 tidak memiliki hubungan erat dengan gereja.

Adolf menuturkan, ajaran iman Kristiani ketika itu bukanlah pilihan bagi segelintir masyarakat Eropa di Batavia. Adolf berkata, tidak sedikit dari mereka yang menolak ajaran gerejani kemudian menjadi anggota Freemason.

“Hanya ada sedikit orang awam yang menjadi orang beriman,” papar Adolf tentang religiusitas masyarakat Batavia kala itu.   (Baca juga: Buah Karya 'Pajak Lendir' Era Bang Ali Pimpin Jakarta)

Dalam catatan Adolf, pemimpin pemerintahan kolonial Belanda memiliki kebijakan yang berbeda soal pembangunan gereja di Batavia. Ada yang keras melarang aktivitas misionaris. Namun ada juga gubernur jenderal yang mengizinkan kegiatan beragama meski dengan berbagai persyaratan.

Awal abad ke-19, Komisaris Jenderal Leonardus Petrus Josephus du Bus Gisignies yang beriman Katolik memahami kebutuhan umat Katolik akan sebuah gereja. Du Bus lantas memerintahkan seorang arsitek berdarah Eropa bernama Tromp untuk menyelesaikan pembangunan Gedung Putih (kini digunakan sebagai kantor Kementerian Keuangan di Lapangan Banteng) yang dimulai Herman William Deandels pada tahun 1809.

Tak hanya itu, Du Bus juga mengeluarkan dua perintah kepada Tromp. Pertama, Du Bus meminta Tromp membangun kediaman baru bagi komandan angkatan bersenjata. Kediaman itu kini dikenal sebagai Gedung Pancasila di Pejambon. Perintah ketiga Du Bus kepada Tromp adalah merancang gereja Katolik pertama di Batavia di atas tanah bekas kediaman panglima tentara.  (Baca juga: Jilakeng, Benih Pelacuran di Jantung Batavia)

Adolf menuturkan, ketika itu Du Bus yang tidak berhubungan akrab dengan panglima angkatan bersentaja pemerintah kolonial, Hendrik Markus De Kock. Tak heran jika kemudian tanah dan rumah dinas itu dijualnya dengan harga sangat murah kepada umat Katolik. Di atas tanah itu saat ini berdiri Gereja Santa Maria Pelindung Diangkat ke Surga.

Bukan hanya memimpin angkatan bersenjata, De Kock ternyata juga tercatat sebagai ketua para penganut Freemason. Sebagai orang berkuasa, De Kock dihibahi tanah luas untuk membangun loge atau gedung berkumpul De Steer in het Oosten.

Sejarahwan Alwi Shahab pernah menulis, perkumpulan Freemason di Batavia lantas membangun loji besar di atas tanah itu. Pada zaman kolonial, tanah itu berada di Vrijmetselaars Weg alias Jalan Freemason.  (Baca juga: Napak Tilas Bisnis Pelacuran Jakarta) 

Sebelum era kemerdekaan, loji itu digunakan perusahaan farmasi Belanda, NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co. Seiring dengan kebijakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda oleh pemerintahan Sukarno, bekas loji itu pun dioperasionalkan oleh Kimia Farma.

Perusahaan itu tetap menempati loji itu hingga sekarang. Yang berbeda, Jalan Freemason tak lagi dikenal di kawasan itu. Pemerintah menggantinya dengan Jalan Budi Utomo

Selain loji Kimia Farma, Adolf mencatat berdirinya loji lain di Batavia. Adolf menyebut gedung yang kini difungsikan sebagai kantor Badan Perencanaan Nasional sebagai bekas logegebouw.

Informasi yang dihimpun Adolf menyatakan, loji yang berada di kawasan Menteng itu dirancang dan dibangun sekitar tahun 1925. Ketika itu lambang vrijmetselaarij atau jangkar dan segitiga masih tergantung di gedung itu. Di bagian muka gedung juga terdapat tulisan Adhuc stat. Keduanya kini telah dihilangkan.

Salah satu anggota vrijmetselaarij yang bernama Bisschop menjadi walikota Batavia pada periode 1916 hingga 1920. Namanya kemudian digunakan untuk taman istimewa di tengah-tengah Menteng, yaitu Burgemeester Bisschopplein (kini Taman Suropati).  (Baca: Ahok: Pelacuran Mirip Sampah)

Menurut Adolf, loji atau loge adalah rumah pertemuan para vrijmetselaar, suatu organisasi internasional yang merahasiakan sebagian kegiatannya, supaya memperoleh pengaruh besar. Dalam bahasa Indonesia, loge sering disebut sebagai rumah setan.

Alwi mengatakan, aktivitas yang dilakukan para pengikut Freemason di loji serupa dengan ritual rohani. “Mereka menyembah simbol-simbol yang melambangkan cita-cita dan pikiran tertinggi manusia,” kata Alwi. Lebih dari itu, Alwi menyebut kelompok itu juga biasa memanggil arwah-arwah orang yang telah meninggal.


(sip)