"Di Yogyakarta, misalnya, ada sebuah sekolah di mana jumlah guru matematikanya sebanyak 726 orang, sementara kebutuhannya hanya 520 orang," kata Tagor saat ditemui dalam diskusi di Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masalah distribusi guru yang tidak merata ini kemudian jadi bergantung pada pemda. Pendistribusian guru sekarang tidak bisa terpusat karena sistem desentralisasi yang dijalankan di Indonesia," kata Tagor.
Di sisi lain, Konsultan Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) Totok Amin Soefijanto menyarankan agar pemerintah lebih berhati-hati dalam melakukan pengiriman guru ke daerah terpencil.
Dia berpendapat guru yang dikirim dari luar daerah juga harus mengerti kearifan lokal daerah setempat. Guru tersebut harus memahami bahasa dan kebiasaan setempat.
"Berdasarkan riset ACDP 2014, siswa kelas I, II, dan III sekolah dasar di daerah akan lebih efektif menerima pelajaran apabila diberikan dalam bahasa ibunya terlebih dahulu. Setelah itu baru diberikan dalam bahasa Indonesia," katanya.
Penelitian itu mengungkapkan siswa harus diajari dengan bahasa ibunya terlebih dulu agar bisa menguasai bahasa Indonesia dengan baik. "Jadi, guru tidak bisa dipindah-pindahkan begitu saja seperti sistem tentara. Banyak aspek yang harus dipikirkan," katanya. (meg)