"Kami memantau dan mencari tahu kebenaran informasi itu. Tetapi kami belum bisa mengonfirmasi. Masih terus kami lacak," kata Arief ketika dihubungi CNN Indonesia, Rabu malam (24/6).
Menurut Arief, segera setelah mendengar informasi eksekusi itu, BNPT secara otomatis langsung berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, serta Badan Intelijen Negara (BIN). "Koordinasi kami tentang hal ini sifatnya masih informal karena kami belum bisa mengonfirmasi apakah benar eksekusi WNI oleh ISIS itu dilakukan," tutur Arief. (Baca juga: ISIS Janjikan Budak Wanita sebagai Hadiah Lomba Mengaji)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka yang bergabung dengan ISIS itu diiming-imingi kehidupan ekonomi yang lebih baik sekaligus melakukan amal kebaikan. "Iming-iming ini tentu menggiurkan untuk mereka dengan kondisi ekonomi yang susah," ujar Arief.
Kabar mengenai warga negara Indonesia yang diduga dieksekusi oleh kelompok radikal Negara Islam, ISIS, hingga kini masih belum jelas kebenarannya. Kabar tersebut pertama kali beredar luas setelah kantor media Daily Mail menyadur berita dari situs aktivis Suriah, Sound and Picture.
Kementerian Luar Negeri RI mengaku telah mencoba mencari tahu kabar tersebut melalui penulis berita media Daily Mail. Namun, penulis itu ternyata tidak bisa memastikan kebenaran mengenai WNI yang dieksekusi oleh ISIS, melainkan hanya berdasar pada informasi dari aktivis di Suriah.
"Mereka mendapat informasi dari aktivis on the ground. Menurut mereka, aktivis tersebut tidak bisa memverifikasi identitas WNI dan kapan waktu eksekusi terjadi," ujar juru bicara Kemenlu RI, Arrmanatha Nasir.
Sementara itu, KBRI di Ankara dan Damaskus hingga kini juga belum bisa memverifikasi kebenaran berita ini. Sebelumnya, ramai diberitakan bahwa seorang WNI yang bergabung dengan ISIS telah dieksekusi mati karena telah menyebarkan AIDS melalui transfusi darah. (hel)