Keramaian Jakarta Tak Mampu Ganti Kebahagiaan Mudik

Gilang Fauzi, CNN Indonesia | Senin, 13/07/2015 15:08 WIB
Keramaian Jakarta Tak Mampu Ganti Kebahagiaan Mudik Pemudik bertiket menunggu pintu masuk dibuka di Stasiun Kereta Api Senen, Jakarta, Kamis, 9 Juli 2015. Puncak arus mudik penumpang yang menggunakan kereta api di Stasiun Senen, Jakarta Pusat, diprediksi mulai H-5 hingga H-1. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mengais rezeki di Jakarta jadi pilihan terakhir yang harus dijalani Aryo. Pria 37 tahun asal Wonosobo, Jawa Tengah, itu merupakan satu dari banyak pendatang baru yang meramaikan arus balik ke ibu kota pascalebaran tahun 2012.

Kala itu Aryo menyerah pada ajakan seorang kerabat yang memuluskan jalan pada pekerjaannya sekarang: pesuruh di sebuah perusahaan konsultan keuangan di kawasan jantung kota Jakarta, Jalan MH Thamrin.

Aryo mengadu nasib dengan meninggalkan istri dan dua anak balita di kampung halaman. Demi mendapat gaji yang tidak lebih besar dari upah minimum, pekerjaan yang dilakoninya cukup menyiksa. Selain harus datang lebih pagi dari para atasan untuk menyiapkan kopi atau teh manis hangat di meja mereka, tak jarang Aryo dipaksa lembur oleh penyelianya.


"Sedih rasanya meninggalkan keluarga, apalagi tak bisa melihat perkembangan anak di kampung," ujar Aryo.

Aryo berusaha mati-matian untuk bisa kerasan hidup di antara hiruk pikuk kota metropolitan. Ada kata 'keras' di balik 'kerasan'. Pulang sebelum berjuang sama artinya menyerah di tengah jalan. Lagipula, keputusan Aryo merantau ke Ibu Kota bukan semata-mata tega meninggalkan keluarga. Ada kisah pahit yang memaksa Aryo hijrah dari daerah kelahirannya.

Di Wonosobo, Aryo pernah membuat geger satu kampung dengan kasus penipuan investasi bodong. Kasus itu berakhir menguap dan berujung pada status buron sang bos yang menjadi dalang penipuan. Bekerja sebagai staf manajemen cabang desa, Aryo kalang kabut menerima teror dari warga.

Aryo jadi kambing hitam ecek-ecek. Dia patungan mengumpulkan uang pengganti bersama rekan-rekannya yang ikut keteteran. Tanah warisan dari sang ayah dia jual untuk membayar uang warga, terutama kerabat yang dia kenal. Apa daya, skandal yang membuat raib Rp 103 miliar milik sekitar 4.500 nasabah itu tak bisa dilunasi sepenuhnya oleh Aryo dan kawan-kawan.

Pada 2011, Aryo digiring masuk bui. Dia dapat hukuman mendekam di balik jeruji selama setahun. Namun masa tahanan itu berkurang, Aryo keluar dari penjara lebih cepat dengan cap berkelakuan baik.

Kini Aryo memulai dan mengakhiri rutinitasnya di kamar kosan seukuran 2x3 meter persegi yang terletak di gang tikus, di balik ingar bingar kehidupan malam Jl Jaksa, Jakarta Pusat. Aryo menampik rasa rindu pada keluarga dan kampung halaman dengan menenggelamkan diri pada pekerjaan –yang menurutnya luar biasa membosankan.

Perlahan dia mulai menyelaraskan diri dengan ritme kota, saat sang waktu terasa begitu berharga: semakin cepat sampai peraduan, semakin banyak waktu untuk berleha-leha. Hasilnya, hari selalu berakhir singkat dan Aryo pun mulai terbiasa hidup terburu-buru.

"Setidaknya gairah kota di sini bisa mengurangi rindu sama kampung. Trauma itu masih ada, tapi aku mesti nerimo.," ujarnya.

Beruntung Aryo bukan Bang Toyib. Jelang lebaran ketiga di Jakarta, Aryo masih bisa rutin pulang untuk menghabiskan tunjangan hari raya di kampung, untuk kembali ke Ibu Kota dengan kantong kempes.

Aryo kini mulai kerasan hidup di Jakarta. Dia telah merantau untuk membersihkan nama. Tempat peraduannya sekarang mungkin telah menjadi kota persinggahan banyak orang untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan hidup. Tapi bagi Aryo, “Jakarta tak lebih dari kota pelarian.” (rdk)