Budi berkata, lembaganya sudah mendapatkan keterangan ahli terkait pernyataan dua komisioner Komisi Yudisial, Suparman Marzuki dan Taufiqurrahman Syahuri, yang disangka menghina Sarpin.
"Penyidik tidak serta-merta menerima bukti yang diserahkan Sarpin. Penyidik memeriksa ke saksi ahli seperti ahli bahasa dan ahli hukum," ujarnya di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (15/7). (Baca juga: Kabareskrim Minta Syafii Maarif Tak Komentari Penegakan Hukum)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau unsur pidananya terpenuhi, ya kami lanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi lain," katanya.
Budi memaparkan, para penyidik kemungkinan besar akan mengabulkan permintaan Suparman dan Taufiq. Pemeriksaan tidak mungkin dilakukan pekan ini karena hari raya Lebaran yang semakin dekat.
"Yang pasti habis Lebaran karena sekarang sudah mepet. Nanti tergantung penyidik yang menjadwalkan," ujarnya. (Baca juga: Penyataan Kabareskrim soal Buya Sakiti Warga Muhammadiyah)
Budi mengaku belum mengetahui apakah keduanya akan diperiksa secara bersamaan. Namun, atas dasar efektivitas dan efisiensi, Budi menyarankan Suparman dan Taufiq diperiksa dalam waktu yang sama.
Ditemui pada kesempatan yang sama, Kepala Polri Badrodin Haiti mendorong sejumlah kalangan untuk memediasi petinggi KY dan Sarpin. Melalui mediasi tersebut, ucap Badrodin, dugaan pencemaran nama baik itu dapat dicabut.
"Masyarakat yang merasa kasihan dengan KY, silakan memediasi tersangka dengan pelapor," ucapnya. (Baca juga: Kapolri Tanyakan Usul Pencopotan Kabareskrim)
Badrodin mengatakan, kepolisian tidak dapat mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan kecuali atas inisiatif Sarpin mencabut laporannya.
Selain itu, Polri dapat menerbitkan SP3 jika lembaga praperadilan menyatakan penetapan tersangaka tersebut tak sesuai dengan peraturan undang-undang. (hel)