Berdasarkan hasil temuan di Kementerian Sosial, pada awal Ramadan menjadi pilihan waktu favorit mereka yang belakangan lebih dikenal dengan istilah 'sindikat gembel'.
"Mereka biasa datangnya menjelang puasa, karena berharap bakal mendapatkan banyak rezeki di bulan Ramadan," ujar Khofifah saat ditemui di rumah dinasnya, Jakarta, Senin (20/7). (Baca: Sindikat Pemasok Gelandangan Incar Buka Bersama dan Sahur)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pilihan Redaksi |
Menurut Khofifah, Peraturan Daerah tentang Ketertiban Umum bisa memberikan sanksi terhadap para koordinator atau penyalur sindikat gembel. Hal itu bisa diterapkan untuk bisa setidaknya mereduksi fenomena musiman tersebut.
"Pada dasarnya supliernya itu teridentifikasi dari daerah mana saja. Komandannya mengendalikan dari jarak jauh," kata Khofifah. (Baca: Gelandangan dari 3 Provinsi ke Jakarta Kantongi Puluhan Juta)
Khofifah mengatakan kementeriannya memetakan penyebaran sindikat gembel mulai dari tingkat desa, kabupaten, hingga provinsi --terutama Jawa dan Lampung. Namun untuk saat ini dia mengaku belum bisa mempublikasikan soal jumlah dan lokasi asal/tujuan penyebaran.
Berdasarkan hasil pantauan CNN Indonesia, salah satu lokasi yang kedapatan didatangi kelompok gembel dadakan terletak di sebuah kawasan perumahan di Pondok Gede, Bekasi. Kawasan itu jadi semacam titik lokasi berkumpul. Masing-masing dari mereka memiliki kelompok kecil laiknya keluarga yang bertahan hidup dalam sebuah gerobak dorong. (Baca: Menteri Khofifah: Gepeng Musiman Jadi Tren Tiap Ramadan)
Dalam kurun sekitar satu pekan selama awal Ramadan, para “manusia gerobak” itu mendadak hilang dan tidak diketahui di mana keberadaannya, sebagaimana kedatangan mereka yang tiba-tiba muncul begitu saja.
(obs)