Liputan Khusus

Tumiso, Si Penyelundup Naskah Pramoedya

Suriyanto, CNN Indonesia | Rabu, 30/09/2015 15:29 WIB
Tumiso, Si Penyelundup Naskah Pramoedya Tumiso, bekas tahanan Pulau Buru yang juga orang dekat sastrawan Pramoedya Ananta Toer. (CNN Indonesia/Suriyanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sastrawan Pramoedya Ananta Toer sempat pesimistis karyanya yang ditulis di Pulau Buru bisa keluar, dicetak dan dibaca banyak orang. Saat diasingkan, Pram memang dibolehkan mengarang, bahkan difasilitasi mesin tik dan kertas. Namun naskahnya tak boleh keluar dari pulau pengasingan di Provinsi Maluku itu.

Naskah tersebut bisa keluar dibawa oleh Tumiso, tahanan politik Pulau Buru sekaligus orang dekat Pram. Padahal menurut Tumiso, awalnya Pram tak percaya orang-orang dekatnya saat di Pulau Buru bisa membawa pulang naskah yang diketiknya itu.

Tumiso menuturkan, Pram saat mengetik naskah tak hanya rangkap satu, tapi enam lembar. Tujuannya untuk meminta bantuan orang-orang yang dipercayanya itu mengoreksi naskahnya itu.


Enam lembar hasil ketikan itu masing-masing untuk Pram sendiri, pakar hukum Suprapto, seniman Oey Hay Djoen, Tumiso dan dua orang lain.

"Pak Pram mengetik dan ditunjukan untuk dikoreksi kalau ada yang salah," kata Tumiso kepada CNN Indonesia. Menurutnya meski karya Pram selama ini adalah murni karyanya, namun belum tentu akan seindah seperti yang dibaca publik jika tidak dibantu oleh orang-orang dekatnya.
Misalnya soal hukum Suprapto akan memberikan masukan, sementara untuk aksi tani giliran Tumiso yang memberikan sumbang saran. Lima orang dekat Pram ini, kata Tumiso tak cuma menerima lembaran naskah, namun juga bundelan atau kumpulan naskah yang sudah berbentuk buku.

Bundelan kertas yang sudah seperti buku novel itulah yang kemudian diselundupkan Tumiso keluar Pulau Buru.

Sejak awal Tumiso yakin, karya-karya Pram adalah karya kelas dunia yang layak dibaca banyak orang. Hal itu juga yang jadi keinginan Pram meski ia tak yakin lima orang yang selama ini dititipi naskah ini bisa menyelundupkannya.

Apalagi saat itu komandan Pulau Buru selalu mengawasi Pram dan benar-benar menjaga naskah hasil karyanya bisa keluar. Karena itu Pram, kata Tumiso sama sekali tak menyangka naskahnya bisa ikut "bebas" bersama dirinya.
Sadar sejak awal bahwa naskah karya Pram adalah karya kelas dunia, Tumiso rajin menyimpan naskah yang dibuat satrawan asal Blora itu. Saat dibebaskan pada Desember 1979, Tumiso menggabungkan naskah-naskah tersebut dengan pakaiannya yang akan dibawa pulang.

"Saya bawa biasa saja, masukan ke dalam karung urea," ujarnya.

Ia dibebaskan dari Pulau Buru melalui Surabaya menggunakan kapal laut. Namun dari Surabaya Tumiso tak langsung bebas. Bersama Pram dan Oey Hay Djoen dan beberapa tapol lain ia dibawa ke Magelang, Jawa Tengah untuk dipenjara lagi.

Saat akan dijebloskan ke penjara ini Tumiso digeledah. Sadar bakal bermasalah dengan naskah-naskah Pram, Tumiso pura-pura jatuh dan mengaku sakit. Karena dikira benar-benar sakit, ia tak jadi digeledah dan diperiksa kesehatannya.

Hal yang sama juga terjadi saat dipindahkan ke sebuah penjara di Semarang. Namun ia kembali pura-pura sakit dan urung digeledah. "Pram baru tahu naskahnya selamat saat sudah di Semarang ini," kata Tumiso.

Penggeledahan terakhir dilakukan saat Tumiso benar-benar dibebaskan. "Saya sempat dicurigai penjaga karena mengaku sakit terus," katanya. Ia bahkan sempat dihardik petugas dan disebut pengecut. Namun ia bersyukur meski sempat dicurigai, naskah karya Pram bisa selama.

Tumiso dibebaskan di Surabaya, daerah asalnya melalui Komando Daerah Militer setempat. Tak lama di Surabaya, Tumiso segera ke Jakarta pada awal 1980 untuk menyerahkan naskah Pram tersebut.
Naskah kemudian diserahkan pada penerbit Hasta Mitra, penerbit yang didirikan Pramudya bersama dua temannya, Hasjim Rachman dan Joesoef Isak. Oleh penerbit tersebut, naskah-naskah Pram kemudian dicetak dan dipublikasikan sehingga bisa dibaca khalayak ramai sampai sekarang.

Delapan naskah yang kemudian menjadi buku diantaranya Tetralogi Pulau Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Empat novel ini sempat dilarang peredarannya peredarannya karena dinilai mengandung paham kiri.

Selain itu ada naskah yang berjudul Mangir, Arus Balik, dan Arok Dedes yang berhasil dicetak dan dipublikasikan. (sur/sip)