"Sangat penting bagi SMK untuk dapat melakukan sertifikasi kompetensi pada siswa-siswanya," kata Sumarna saat diskusi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Selatan, Rabu (7/10).
Di sisi lain, Direktur Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Mustaghfirin Amin menyatakan sebanyak 60 persen dari total 12 ribu SMK sudah dapat melakukan sertifikasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mustaghfirin mengatakan pihaknya menargetkan ada 1.650 SMK yang menjadi rujukan pada pertengahan 2016. SMK rujukan nantinya dapat menyelenggarakan uji kompetensi untuk sertifikasi siswa.
Di sisi lain, Sumarna menekankan bahwa lulusan SMK harus disertifikasi industri di dunia sekarang menuntut adanya sertifikasi tersebut. Contohnya, kata Sumarna, Jepang sudah mengeluarkan regulasi bahwa pada 2016, awak buah kapal (ABK) di atas kapal Jepang harus telah menjalani sertifikasi kompetensi.
"ABK Jepang paling banyak dari Indonesia. Kalau sampai tahun depan belum melakukan sertifikasi, maka mereka harus turun dari kapal Jepang," katanya.
Bila hal tersebut terjadi, kata Mustaghfirin, maka posisi Indonesia dapat terganti oleh Filipina yang saat ini menyediakan ABK terbanyak di dunia. (sur)