"Tidak masalah. Asalkan jangan membebaskan senjata," ujar Fahri Hamzah saat ditemui di Gedung Nusantara III DPR, Jakarta, Senin (12/10). (Baca: Kementerian Pertahanan Sebut Bela Negara Bukan Wajib Militer)
Menurut Fahri wacana bela negara memang perlu dilakukan untuk mengatur energi besar masyarakat terutama angkatan muda Indonesia. Fahri lantas mencontohkan taruna tanggap bencana yang dimiliki Kementerian Sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Fahri tidak bermasalah apabila warga tidak mau mengikuti bela negara. "Itu kan pilihan. Asalkan tidak ada pemaksaan," ucap Fahri.
"Kalau ada anggarannya, lebih cepat lebih baik. Asalkan jangan pakai sumbangan swasta," katanya.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menuturkan, program pembentukan kader bela negara merupakan gagasan pemerintah untuk mempersiapkan warga negara dalam menghadapi dua bentuk ancaman, baik ancaman militer maupun nirmiliter.
Lebih dari itu, Ryamizard mengatakan kewajiban bela negara memiliki penjabaran yang luas dan tidak selalu berkonotasi mengangkat senjata. Ia berkata, bela negara dijalankan setiap warga sesuai dengan kemampuan dan profesi mereka masing-masing.
Kemhan akan menyelenggarakan pembentukan kader pembina bela negara 19 Oktober mendatang di 45 kabupaten dan kota secara serentak. Melalui pelatihan tersebut, Kemhan mencanangkan 4.500 warga sipil siap menjadi pembina.
Ryamizard berkata, angka tersebut harus tercapai tahun ini. Di tahun-tahun berikutnya, para pembina tersebutlah yang akan melatih warga sipil lainnya. (obs)