Menurut Vermonte, pada era demokrasi seperti saat ini, pemerintah tak perlu menghalangi publik mendapatkan informasi.
"Itu berlebihan. Informasi bagian dari kebebasan pendapat. (Diskusi) digelar di forum sastra dan merupakan hasil dari pemikiran. Harus diubah cara pandang terhadap sejarah,” kata Vermonte di Jakarta, Minggu (25/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Vermonte yang baru tiba dari Jerman untuk menghadiri pameran buku terbesar di dunia, Frankfurt Book Fair 2015, lantas membandingkan UWRF dengan Frankurt Book Fair yang di dalamnya Indonesia menjadi tamu kehormatan dan dapat membahas persoalan 1965 dengan terbuka.
“Itulah yang dibutuhkan di Indonesia. Ini bangsa yang mestinya dewasa, yang harusnya berbagai topik bisa didiskusikan agar ada ruang publik yang sehat,” kata Vermonte.
Hal serupa dikatakan oleh Eka Kurniawan, salah satu penulis yang mestinya mengisi diskusi panel “1965, Writing On” di UWRF.
Senada, sutradara film The Look of Silence (Senyap) yang batal diputar di UWRF, Joshua Oppenheimer, juga menyatakan kecewa dengan pembatalan seluruh sesi 1965 di UWRF. Ia berkata, ini adalah salah satu pukulan terkeras bagi kebebasan berpendapat di Indonesia.
Kepala Kepolisian Resor Gianyar, Ajun Komisaris Besar Farman, menyebut pembatalan sesi 1965 tersebut dilakukan oleh panitia, bukan Kepolisian. Polisi, kata dia, hanya memberi masukan kepada panitia, bukan mengeluarkan instruksi pelarangan.
Panitia UWRF mengatakan diskusi soal 1965 sesungguhnya dilakukan untuk menghormati para korban. Namun panitia akhirnya memilih untuk “Mengalah demi kelangsungan Festival ke depannya.”
Sebelum gonjang-ganjing UWRF di itu, di Salatiga, Majalah Lentera terbitan pers mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana yang memuat investigasi dampak peristiwa Gerakan 30 September 1965 terhadap Kota Salatiga ditarik dari peredaran dan dilarang diterbitkan lagi.