“Tidak ada intervensi dan larangan (di acara UWRF). Program (1965) dibatalkan oleh panitia, bukan polisi,” kata AKBP Farman kepada CNN Indonesia, Minggu (25/10).
Menurut Farman, dia memberi masukan kepada panitia, bukan mengeluarkan perintah larangan. “Sudah dari jauh hari kami (Kepolisian) mengoordinasikan dan mengimbau supaya hal-hal terkait SARA (suku, agama, ras, antargolongan) tidak dilaksanakan dan dimasukkan ke dalam program,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyatakan panitia, ketika mengurus izin penyelenggaraan acara, tidak membeberkan secara detail program-program apa saja yang akan digelar sepanjang pelaksanaan UWRF.
Menurut dia, ada ketidakterbukaan panitia kepada Kepolisian. “Panitia pun minta maaf ke kami,” kata Farman.
Sementara film yang batal diputar ialah The Look of Silence (Senyap) karya Joshua Oppenheimer. Seluruh pembatalan ini, menurut Direktur UWRF Janet DeNeefe, merupakan tamparan besar bagi panitia. Ia menyebut hal ini sebagai sensor dari otoritas.
“Sejak awal sudah ada keberatan dari pemerintah lokal,” kata Hanna Nabila, Koordinator Media UWRF 2015. Keberatan terutama ditujukan pada segala tema program terkait 1965.
Tema 1965 menguat karena tahun ini bertepatan dengan peringatan G30S. Tema serupa pun menjadi bahasan utama pada Frankfurt Book Fair.
Pada 1965, pembunuhan massal terjadi di berbagai daerah di Indonesia yang dipicu oleh peristiwa G30S, yakni tragedi berdarah pada 30 September malam di mana tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh.