BMKG: Puncak Musim Hujan di Jabodetabek Desember-Februari

Utami Diah Kusumawati, CNN Indonesia | Senin, 09/11/2015 13:28 WIB
BMKG: Puncak Musim Hujan di Jabodetabek Desember-Februari Staf memantau Citra Satelit Cuaca Wilayah Indonesia di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Jakarta, Selasa, 30 Desember 2014. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan Indonesia telah memasuki awal musim hujan pada bulan November ini. Puncak musim hujan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) diprediksi akan terjadi pada Desember hingga Februari nanti.

"Berdasarkan trennya sudah memasuki musim hujan. Secara umum, puncak musim hujan di wilayah Jabodetabek terjadi dari Desember hingga Februari," kata Hari Tirto Djatmiko, Kepala Sub Direktorat Informasi BMKG, saat dihubungi CNN Indonesia, Senin (9/11).
Peningkatan curah hujan, kata Hari, juga dipengaruhi oleh adanya penurunan fenomena El Nino di wilayah Samudra Pasifik. Hal ini tidak berpengaruh terhadap datangnya musim hujan.

"Berangsur-angsur seiring waktu, ada tren menurun dari El Nino dan kebetulan Indonesia akan memasuki awal musim hujan. Jadi, pengaruhnya tidak cukup signifikan. Di sana mulai turun (El Nino), di sini mulai masuk musim hujan," ujar Hari.
Sementara mengenai potensi banjir di Indonesia, Hari mengatakan pada bulan November ini pemerintah perlu mewaspadai beberapa daerah yang berpotensi tinggi dan menengah terkena banjir seperti di antaranya Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.


Sedangkan untuk bulan Desember, potensi banjir dengan skala menengah ke atas merata dari Aceh, DKI Jakarta, Kalimantan, hingga Papua dan Maluku.

Potensi banjir tersebut, kata Hari, dibuat berdasarkan kerjasama antara BMKG, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum dan Badan Informasi Geospasial (BIG).

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) terdapat 64 juta jiwa masyarakat Indonesia tinggal di daerah rawan sedang hingga tinggi banjir. Mereka tinggal di 315 kabupaten atau kota di seluruh Indonesia.

"Sekarang ancaman bencana sudah berganti menjadi banjir, longsor dan ancaman puting beliung," kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho. (utd/utd)