Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Sirajuddin Abdul Wahab menyatakan kalangan muda Partai Golkar tidak merasa bahwa konflik antara kubu Aburizal Bakrie dengan Agung Laksono untuk kepentingan anak muda yang diperjuangkan. “Konflik kepengurusan Partai Golkar hanya untuk melangengkan kekuasaan elite dan senior,” kata Sirajuddin kepada CNN Indonesia, Selasa (10/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Bahwa kepemimpinan partai lah yang menjadi faktor determinan atas gagalnya Golkar dari pemilu ke pemilu. Apalagi dengan adanya konflik yang sudah berjalan satu tahun terakhir, akan menambah catatan buruk bagi Partai Golkar,” ujarnya.
“Kami anak muda Golkar sangat berharap adanya Munas Bersama, sebagai wujud nyata komitmen para elite dan senior Partai Golkar untuk membangun dan mengembalikan kejayaan Partai Golkar ke depan,” tuturnya. (Baca: Demi Munas Golkar, Agung Laksono Rela Jadi Waketum)
Dia menambahkan regenerasi kepemimpinan merupakan warisan yang sangat monumental yang harus ditinggalkan oleh senior-senior Partai Golkar pada generasi berikutnya. Jadi, jangan sampai Partai Golkar diestafetkan dalam kondisi terpuruk. Regenerasi adalah suatu keniscayaan atas realita politik kekinian, dan Partai Golkar harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Munas bersama harus dijadikan momentum rekonsiliasi yang utuh dan menyeluruh bagi Partai Golkar,” ujar Sirajuddin. (Baca: Bukan Membaik, Golkar Masuk ke Babak Baru Berlarutnya Konflik)
Sebelumnya Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar versi Munas Ancol, Melchias Markus Mekeng, mengatakan Aburizal Bakrie tidak mau ada munas hingga 2019 mendatang. “Pernah ingin diajak bertemu untuk membicarakan munas tapi Pak Ical enggak mau, padahal Pak Agung maunya munas,” ujar Mekeng kepada CNN Indonesia.
Mekeng mengatakan hingga saat ini belum ada kesepakatan soal digelarnya munas bersama karena belum ada pertemuan antara Ical dan Agung lagi. “Bleum bertemu lagi, kami masih mencari waktu atau momen,” kata Mekeng. (obs)