Ikut Tolak Pabrik Semen Rembang, Gus Mus Datangi Tenda Warga

Damar Sinuko, CNN Indonesia | Sabtu, 28/11/2015 20:42 WIB
Tokoh Nadhlatul Ulama tersebut mengatakan apa yang terjadi pada alam pegunungan Kendeng membuktikan ulah dan keserakahan manusia. Tokoh Nadhlatul Ulama Mustofa Bisri (Gus Mus) mendatangi tenda perjuangan warga Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (28/11). (CNN Indonesia/Damar Sinuko)
Semarang, CNN Indonesia -- Pemuka agama dari Nadhlatul Ulama (NU), Mustofa Bisri, mendatangi tenda perjuangan warga yang menolak pendirian pabrik semen PT. Semen Indonesia di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Kedatangan tokoh yang akrab disapa Gus Mus ini langsung disambut warga dengan melantunkan salawat sambil bersalaman. Gus Mus pun langsung ikut menbaur bersama warga dengan masuk ke tenda.
Kepada warga, Gus Mus menyampaikan terima kasih atas perjuangan warga dalam melestarikan lingkungan dan alam. Menurut Gus Mus, apa yang terjadi sekarang ini pada alam pegunungan Kendeng, membuktikan ulah dan keserakahan manusia.

“Jadi, penghargaan saya terhadap Anda semua terkait kelestarian alam. Melihat keserakahan-keserakahan manusia itulah yang menyebabkan kelestarian alam kita rusak,” ujar Gus Mus di hadapan warga pada Sabtu (28/11).
Gus Mus menambahkan dirinya akan terus senantiasa mendukung perjuangan menolak pabrik semen PT. Semen Indonesia di pegunungan Kendeng, Rembang.


"Saya akan terus ada untuk saudara semua. Mari terus berjuang melawan penindasan ini," ujar Gus Mus.
Kunjungan Gus Mus di tenda perjuangan warga ini sendiri tidak lepas dari aksi ibu-ibu dari Desa Tegaldowo yang datang ke kediaman Gus Mus pada Jumat (27/11) kemarin. Kepada Gus Mus, perwakilan ibu-ibu tersebut menceritakan kondisi perjuangan mereka dalam melawan pabrik semen, termasuk intimidasi yang mereka alami baik dari oknum birokrasi maupun oknum aparat.

Tenda penolakan pabrik semen di Rembang didirikan sejak 16 Juni 2014 lalu, bertepatan dengan peletakkan batu pertama pendirian pabrik PT Semen Indonesia. Saat itu, ratusan warga yang didominasi kaum perempuan mendatangi tapak pabrik. Sejak saat itu hingga sekarang, tenda itu masih terus dihuni warga yang didominasi kaum perempuan. (utd/utd)