Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Syarif Hidayat, mengatakan penilaian negatif terhadap DPRD terletak pada ketidakmampuan anggotanya menyerap dan menyalurkan aspirasi masyarakat.
Idealnya, kata Syarif, DPRD mestinya mengumpulkan dan membahas aspirasi masyarakat, lalu menyampaikan hasil pembahasan tersebut kepada lembaga eksekutif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peran DPRD pada variabel institusi demokrasi tahun 2014 tercatat sebesar 39,51. Angka ini lebih tinggi dari indeks tahun 2013 dan 2012, masing-masing 36,62 dan 35,53.
Peran DPRD yang sangat minim sebagai lembaga demokrasi berekses pada munculnya anarkisme di sejumlah daerah. "Ketika masyarakat tidak dapat mengekspresikan kebebasan sipil, mereka mewujudkannya dalam bentuk kekerasan," kata Syarif.
Tak konsisten mengkader
Selain peran negatif DPRD, Indeks Demokrasi Indonesia juga menemukan kontribusi negatif partai politik. Sebagai institusi demokrasi, partai politik justru dinilai tak konsisten melakukan kaderisasi.
"Kaderisasi yang dilakukan parpol sedikit, hampir tidak ada. Itu hanya dilakukan partai besar. Tahun 2014, hampir tidak ada kaderisasi karena parpol sibuk mengurus pemilu," ucap Syarif.
Indikator kaderisasi partai Politik pada Indeks Demokrasi Indonesia 2014 mencapai angka 58,74. Ini lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang berada di poin 50.
"Pemilu dilaksanakan secara rutin, tapi parpol sebagai aktor utama masih cenderung oligarkis. Tidak ada kaderisasi, yang ada hanya 4L (loe lagi, loe lagi atau kamu lagi, kamu lagi)," kata Syarif.
Indeks Demokrasi Indonesia digagas oleh Kemenkopolhukam, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Badan Pusat Statistik, Kementerian Dalam Negeri, dan Badan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP).
Pada tingkat pusat, program ini terpusat pada Deputi Koordinasi Bidang Dalam Negeri Kemenkopolhukam.
Pelaksanaan Indeks Demokrasi Indonesia di daerah diwakili pokok kerja di tingkat provinsi. Sekretaris Daerah berstatus sebagai ketua Kelompok Kerja, sedangkan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik menjabat Wakil Ketua Indeks Demokrasi Indonesia. (agk)