Pramono berpendapat bahwa apa yang disampaikan Luhut mengungkapkan ketidakberpihakan mantan Kepala Kantor Staf Presiden itu pada pihak manapun, termasuk Setya.
"Saya yakin Pak Luhut tidak akan membela siapa-siapa, karena apa yang disampaikan untuk Pak Luhut sendiri. Hanya, memang patut disayangkan dalam konferensi pers tersebut ada anggota MKD yang hadir," ujar Pramono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (14/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami dalam rapat pimpinan memutuskan undangan via fax dari sekretariat Pak Luhut, tidak datang," kata Junimart di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.
Dengan demikian, menurut Junimart ketiga anggota MKD yang hadir dalam konferensi pers Luhut telah melanggar kode etik sesuai pasal tersebut.
"Menurut saya (melanggar kode etik). Tidak tahu menurut rapat internal," ujar Junimart.
Sebelumnya, anggota MKD dari Fraksi Golkar Ridwan Bae, mengklaim baru mengetahui ada rencana pemanggilan tersebut dari pernyataan Luhut saat menggelar konferensi pers, Jumat sore.
Ketidaktahuan itu menjadi salah satu alasan Ridwan ikut menghadiri konferensi pers yang dihelat Luhut terkait polemik perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia, kemarin.
"Saya baru tahu Pak Luhut dapat undangan dipanggil pimpinan MKD. Saya dengar sendiri dari Pak Luhut saat konferensi pers kemarin. Kalau tahu dari awal, ngapain saya datang ke konferensi pers itu," kata Ridwan ketika dihubungi CNN Indonesia.
Selain tidak tahu Luhut dipanggil oleh pimpinannya sendiri, Ridwan juga mengaku hadir karena menghargai undangan sebagai kolega. Ridwan juga mempertimbangkan konferensi pers yang digelar terbuka sehingga memutuskan untuk hadir.
"Saya hadir di hadapan puluhan wartawan. Kecuali kalau diundang tertutup, saya tidak akan datang. Pada kesempatan itu tidak ada pembicaraan pribadi sedikit pun. Saya hanya ikuti konferensi pers," ujar Anggota MKD dari Fraksi Partai Golkar ini. (utd)