Konstruksi Kapal Marina yang Tenggelam Mudah Pecah

Anggi Kusumadewi, CNN Indonesia | Senin, 28/12/2015 08:37 WIB
Konstruksi Kapal Marina yang Tenggelam Mudah Pecah Sebanyak 12 orang penumpang KM Marina hingga kini masih hilang. (ANTARA/Sahrul Manda)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kapal Motor Marina Baru 2B yang tenggelam di Teluk Bone, selatan Sulawesi, disebut praktisi boat builder Ali Yusa tidak layak untuk pelayaran jarak jauh dengan kondisi perairan berombak. Ini karena KM Marina terbuat dari bahan fiberglass yang lebih mudah pecah dibanding baja.

“Kapal KM Marina Baru itu jenis kapal cepat berbahan fiber yang mempunyai konstruksi mudah pecah,” kata Ali di Surabaya, Jawa Timur, Senin (28/12).

Pengkategorian KM Marina sebagai kapal cepat, menurut Ali, mengacu pada konvensi yang disebut SOLAS (Safety of Life at Sea). Ini adalah konvensi untuk melindungi keselamatan yang versi pertamanya dikeluarkan pada tahun 1914 menyusul tenggelamnya Kapal Titanic.


Selain itu, juga berdasarkan regulasi Biro Klasifikasi Indonesia. BKI ini ialah Badan Usaha Milik Negara yang melakukan kategorisasi kapal-kapal niaga dan asing yang beroperasi di perairan Indonesia.

Dalam BKI, ujar Ali, tercantum Rules Fibreglass Reinforced Plastic Vessels yang mengatur tentang masalah konstruksi seperti material, cara penyambungan, konstruksi sekat kedap, tangki, geladak, kekuatan kapal, permesinan, dan kelistrikan kapal.

"Kapal fiberglass harus memenuhi standar yang disyaratkan, misalnya HSC (High Speed Craft) Code. Namun HSC Code masih belum banyak diperhatikan," kata Ali.

Desain penempatan pintu-pintu serta tempat duduk pada kapal fiberglass yang memuat banyak penumpang misalnya, ujar Ali, banyak yang tak memenuhi standar evakuasi.

Untuk kapal fiberglass yang mengangkut 100 penumpang, kata Ali, mestinya seluruh penumpang dapat dievakuasi dalam waktu sekitar 176 menit.

Sementara praktisi pelayaran Achmad Fadjar mengatakan desain konstruksi dan proses laminasi lambung kapal fiberglass umumnya tidak mengacu pada persyaratan sehingga kekuatan konstruksinya sulit dijamin.

Pun banyak galangan kapal yang belum memiliki standar mengenai penggunaan material, komposisi, dan prosedur laminasi.

"Permasalahan pada kapal fiber tidak hanya pada proses produksinya, tapi juga dalam pengoperasiannya yang belum mengacu pada persyaratan. Kepedulian pemerintah pada masalah ini juga masih kurang," kata Achmad.

Hingga saat ini 12 penumpang KM Marina Baru belum ditemukan. Sementara penumpang yang telah ditemukan berjumlah 106 orang, dengan rincian 40 orang berhasil selamat dan 66 lainnya meninggal.

Selain penumpang, 10 anak buah kapal dan dua penjaga kantin kapal juga termasuk yang diangkut KM Marina Baru.

Kapal itu tenggelam setelah dihantam ombak besar. Sebelum karam, air masuk ke lambung kapal. Sampai hari ini proses pencarian terhadap 12 korban yang hilang masih terus berlangsung.
(Antara/agk)