Wawancara Khusus

Akbar Tandjung: Saya Tak Bisa Lepas dari Politik (1)

Anggi Kusumadewi, Abi Sarwanto, CNN Indonesia | Sabtu, 16/01/2016 12:50 WIB
Akbar Tandjung: Saya Tak Bisa Lepas dari Politik (1) Akbar Tandjung masih juga aktif mengurus Golkar meski usianya tak lagi muda. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak ada yang tak kenal Akbar Tandjung di dunia perpolitikan tanah air. Pria kelahiran Tapanuli, Sumatra Utara, 70 tahun lalu itu merupakan salah satu politikus senior Indonesia. Jabatan menteri, ketua umum partai, dan Ketua DPR telah ia sandang.

Terjun ke jagat politik sejak Orde Baru, tepatnya 1970-an, Akbar hingga kini tak juga melepaskan kecintaannya pada politik. Rumah dan kantornya di Akbar Tandjung Institute hampir setiap hari menerima tamu, mulai para sahabat, kolega, sampai kader-kader partai dari berbagai daerah.

“It’s in my blood. It’s my passion,” demikian Akbar menggambarkan perasaan hatinya terkait berbagai aktivitas organisasi yang ia jalankan.


Saat CNNIndonesia.com menyambangi mantan Ketua Umum Golkar itu belum lama ini, Akbar terlihat lebih kurus. Sekitar sebulan sebelumnya, ia dirawat di rumah sakit karena kelelahan usai mengikuti kampanye pilkada.

Meski bobot susut, energi tak ikut surut dari diri Akbar. Ia dengan telaten mengikuti detail perkembangan pergolakan internal di tubuh partainya. Berita-berita rutin ia lahap tiap hari.

Golkar tetap menjadi salah satu perhatian utama Akbar. Dia menanggapi tenang saat seorang kader daerah tergopoh-gopoh menemuinya untuk melapor soal konflik Golkar.

“Lihat berkas-berkas ini, Bang. Dengan ini, Golkar bisa bubar. Saya sudah masukkan berkas ini ke MK. Saya juga laporkan Ical ke Den Haag karena melanggar hak asasi manusia,” kata kader asal Banyuwangi itu, Pebdi Arisdiawan.

Akbar selintas terlihat terkejut, namun raut wajahnya tetap kalem.

“Kamu sudah lakukan semua itu?” tanya Akbar ke Pebdi yang bicara dengan berapi-api.

“Iya, sudah Bang,” jawab Pebdi.

Akbar geleng-geleng kepala, lalu menepuk-nepuk bahu Pebdi. “Sudah, sudah. Ayo kita bertemu yang lain dulu,” kata dia.

Akbar Tandjung bersama anggota Dewan Pertimbangan Golkar dan Generasi Muda Golkar di kediamannya, Jakarta. Mereka mendesak dua kubu bersengketa di Golkar untuk melakukan rekonsiliasi lewat Musyawarah Nasional. (ANTARA/Reno Esnir)
Saat itu suasana riuh. Sejumlah tokoh Golkar sedang berkumpul. Mereka antara lain Ibrahim Ambong, Anwar Parifin, dan Patrice Morin yang merupakan anggota Dewan Pertimbangan Golkar, juga Hafiz Zawawi, Indra Bambang Utoyo, Agun Gunandjar Sudarsa, dan Priyo Budi Santoso.

Di tengah kesibukan itu, Akbar menerima wartawan CNNIndonesia.com, Anggi Kusumadewi dan Abi Sarwanto. Ketua Dewan Pertimbangan Golkar kubu Munas Bali Aburizal Bakrie itu lantas bercerita tentang awal mula ia bergabung dengan Golkar, hingga kecemasannya melihat kondisi Golkar saat ini. Berikut petikan wawancaranya.


Anda kini berada pada usia yang tak bisa dibilang muda lagi. Kenapa masih mau capek mengurusi partai? Golkar toh punya banyak tokoh muda.

Tentu saya selalu mendorong generasi muda Golkar untuk maju. Tapi saya tetap tidak bisa lepas dari politik. Passion saya di situ. Kegiatan berorganisasi politik tak bisa dihilangkan dari saya, termasuk terkait HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam).

Saya sampai sekarang masih banyak memberikan training di berbagai daerah. Kalau saya ditelepon, diundang, diminta menjadi pemateri, saya pasti usahakan datang. Saya merasa itu panggilan sayang untuk saya, sebab di situ saya paling tidak bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Satu waktu saya pernah berikan training di Raja Ampat, Papua. Jauh dari sini. Tidak bisa naik pesawat langsung sampai. Mesti naik kapal dulu. Pesawat pun transit di Makassar. Tapi di sana saya bisa bagi ilmu.


Apa yang menarik dari Golkar buat Anda?

Sejak muda saya sudah bergaul dengan tokoh-tokoh Golkar. Saya mulai aktif di Golkar 1975, resmi bergabung dengan Golkar 1974, ketika selesai memimpin HMI.

Tapi sebetulnya sejak 1973 saya sudah berada di lingkaran Golkar, terutama waktu pendirian KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) pada 23 Juli 1973.

Penggodokan pendirian KNPI dilakukan di Jalan Tanah Abang III, pusat tokoh-tokoh Golkar. Di situ saya bertemu intelektual senior Golkar Midian Sirait, David Napitupulu, Cosmas Batubara, Marzuki Darusman, dan lain-lain.

Dari beberapa nama yang disebut Akbar itu, mayoritas berasal dari berbagai daerah di Sumatra Utara seperti dia, yakni Midian Sirait, David Napitupulu, dan Cosmas Batubara.

Jadi saat itu saya sudah di situ (Golkar), tapi masih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar HMI. Setelah menyelesaikan jabatan di PB HMI, saya resmi aktif di Golkar.

Dua tahun setelah bergabung dengan Golkar, akhir 1976, saya ditawari ikut Pemilihan Umum 1977, maju sebagai calon anggota DPR dari Golkar.

Waktu itu Golkar dipimpin Mayjen Purnawirawan Amir Murtono. Pak Amir Murtono waktu itu menyampaikan kepada saya di Kantor Pusat Golkar, “Kami mencermati kiprah Saudara selama aktif di organisasi kepemudaan, terutama KNPI, dan kamu tahu Saudara mantan Ketua Umum PB HMI. Kami anggap Saudara tokoh muda potensial untuk bisa turut serta dalam proses regenerasi dan kaderisasi Golkar. Kami mengajak Saudara untuk ikut serta menjadi anggota DPR dari Golkar pada Pemilu 1977.”

Saya menjawab, “Terima kasih banyak Pak Amir atas kepercayaan kepada saya. Ini penghormatan dan pengalaman yang tak akan saya lupakan.”

Akhirnya saya ikut pemilu jadi calon nomor urut 25 di daerah pemilihan Jawa Timur. Meski dapat nomor urut 25 dari 30 calon, Golkar kuat sehingga mayoritas calon terpilih.
Tahun 1977 itu saya terpilih menjadi anggota DPR. Tahun 1982 masih terpilih. Tahun 1987 juga terpilih, tapi tahun 1988 saya dipercaya Pak Harto menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga.

Lima tahun kemudian, 1993, Pak Harto masih meminta saya jadi menteri, yaitu Menteri Perumahan Rakyat. Tahun 1998 saya masih juga diminta jadi Menteri Perumahan dan Permukiman, lalu terjadilan Reformasi.

Pak Harto mundur sebagai presiden. Pak Habibie maju dari wakil presiden menjadi presiden. Waktu era Habibie, saya jadi Menteri Sekretaris Negara. Di masa Gus Dur, saya menjabat Ketua DPR.


Ada keinginan Anda yang masih belum tercapai sampai saat ini?

Tidak ada. Saya bersyukur pada Tuhan atas semua yang saya dapatkan. Saya sudah menjabat poisis politik, juga memimpin lembaga negara sebagai Ketua DPR. Apalagi saya betul teruji memimpin Golkar dalam situasi apapun.

Akbar Tandjung memimpin Golkar pada masa transisi usai Reformasi, yakni periode 1998-2014. Saat itu Golkar yang dianggap sebagai warisan Orde Baru terancam dibubarkan. Kantor dan aset-asetnya dirusak di sejumlah daerah. Namun Golkar bertahan dan tetap meraih perolehan suara tinggi pada pemilu.

Saya puas sebagai seorang politisi bisa memimpin partai dalam situasi amat berat, di tengah opini buruk yang dibangun terhadap partai, yang alhamdulilah bisa lolos dan bangkit menjadi pemenang pemilu.

Prinsip saya mensyukuri nikmat Tuhan. Dengan begitu Tuhan akan menambah nikmat-nikmat itu. Kalau tidak bersyukur, akan terasa betapa Tuhan akan menghukum.

Jadi jika masih diberi nikmat lagi, alhamdulillah. Tapi nikmat yang sudah ada sekarang sudah saya anggap cukup, alhamdulillah.


Simak lanjutan wawancara Akbar Tandjung pada bagian berikutnya.
(agk)