Insiden teror di jantung Ibu Kota dan perdebatan adu mulut pascapenggeledahan KPK yang melibatkan aparat bersenjata tampaknya membuat anggota dewan terpicu untuk segera memperketat pengamanan di lingkungan kompleks parlemen.
Meski demikian, anggota Badan Legislatif Arwani Thomafi menepis anggapan rencana pengetatan pengamanan di parlemen digodok setelah adanya dua peristiwa tersebut. Menurut dia, rencana memperketat pengamanan sudah dirancang sejak jauh hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, kata Arwani, Panja berusaha mencari cara bagaimana agar penghuni Gedung DPR betul-betul merasa aman, demikian juga bagi mereka yang berkunjung ke gedung dewan. Sehingga dibutuhkan suatu sistem kerja pengamanan yang bekerja sesuai dengan standar pengamanan di objek vital.
"Jadi ini tidak ada upaya menghambat atau menghalang-halangi masyarakat masuk. Kami ingin objek vital ini dipastikan sistem kerja pengamanannya. Baik anggota, karyawan, tamu, dan mitra kerja merasa aman kalau datang ke sini," kata Arwani.
Legislator Fraksi Partai Persatuan Pembangunan itu menegaskan niatan memperketat pengamanan bukan lantaran terpicu oleh satu-dua peristiwa yang belakangan terjadi. Dia menyatakan kinerja Panja sudah berjalan, namun belakangan sempat terhenti akibat reses pergantian tahun.
Panja pengamanan dalam hal ini telah mengundang pihak dari Paspampres maupun Mabes Polri untuk dimintai masukannya. Dalam waktu dekat, kata Arwani, Baleg DPR akan mengundang Kesekretariatan Jenderal MPR dan DPD guna mematangkan niatan pengetatan pengamanan di Kompleks Parlemen. (utd)