Kuasa hukum yang ditunjuk untuk menghadapi kasus PT Mobile-8, Hotman Paris Hutapea menjelaskan, restitusi PT Mobile-8 senilai Rp10,7 miliar sama sekali tak ada hubungannya dengan tuduhan transaksi fiktif antara PT Mobile-8 dan PD Jaya karena terjadi pada rentang waktu yang berbeda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, uang senilai Rp10,7 miliar yang didapat PT Mobile-8 merupakan hasil pajak yang mereka bayar di muka sepanjang 2002-2005. Pajak tersebut diambil kembali lantaran pada rentang yang sama PT Mobile 8 mengalami kerugian mencapai Rp693 miliar. Perusahaan yang merugi, kata Hotman diperbolehkan untuk tak membayar pajak.
"Menurut Undang-undang Pajak perusahaan yang merugi tapi sudah membayar pajak di muka berhak untuk merestitusi pajak sesuai yang mereka bayarkan," ujarnya.
Proses-proses tersebut dinilai Hotman, sama sekali tak menghasilkan kerugian negara. Oleh karena itu penyelidikan oleh Kejaksaan Agung tidaklah benar.
Sementara untuk urusan dugaan transaksi fiktif, Hotman mengungkapkan bahwa tidak pernah terjadi. Jika memang terjadi, dia menilai negara justru akan diuntungkan. Analogi yang digunakan Hotman adalah bagaimana terjadi penggelembungan dalam transaksi tersebut yang malah bisa membuat untung.
Dia beralasan jika penghasilan kecil maka pajak yang harus dibayar pun kecil, dan sebaliknya jika penghasilan di-mark up jadi besar maka pajak yang dibayarkan harus besar pula.
"Namun intinya adalah transaksi itu tak ada kaitannya dengan restitusi karena itu untuk penghasilan 2002-2005, sedangkan transaksi dengan PD Jaya terjadi di 2007," katanya. (sur)