"Mereka memang tidak berizin," ujarnya kepada CNN Indonesia, melalui sambungan telepon, Sabtu (27/2).
Di sisi lain, sekitar pukul 14.00 WIB, sekelompok orang berunjuk rasa menentang Festival Belok Kiri. Mereka membawa beberapa spanduk yang menolak komunisme dan kegiatan yang berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami akan diadu domba lagi terkait isu komunisme. Ini salah satu kekuatan komunis gaya baru,” kata Koordinator Presidium GPCB Ujang Rizwansyah dalam konferensi pers ‘Menolak Festival Belok Kiri’ di Sekretariat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), Menteng, Jakarta.
Kegiatan tersebut memuat pemutaran film, bedah buku, diskusi publik, pelatihan menggambar, hingga pembacaan manifesto. Seluruh rangkaian acara yang akhirnya tak diberi izin oleh Kepolisian itu dituduh GPCB “berpaham komunis.”
"Walau disamarkan namanya (festival), tapi kami dapatkan rundown acaranya itu dihadiri kebanyakan tokoh yang kami anggap kelompok kiri," klaim Ujang.
Namun saat ditanya jenis kegiatan apa persisnya dalam Festival Belok Kiri yang dianggap akan menyebarkan paham komunis, Ujang tak menyebutkan dengan jelas. Dia juga tidak mau menyebut tokoh yang menurutnya menyebarkan komunisme.
Ketua Komite Penyelenggara Festival Belok Kiri, Dolorosa Sinaga, mengatakan, kegiatan yang telah dipersiapkan selama satu tahun itu ingin menumbuhkan kesadaran generasi muda tentang propaganda yang dilancarkan Orde Baru.
Mantan Dekan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta itu berkata, pemerintah dan sejumlah kelompok masyarakat masih terus mereproduksi propaganda Orde Baru.
"Propaganda itu berlangsung dalam berbagai bentuk, seperti penindasan dan kebencian. Ini perlu dibongkar agar generasi muda dapat tumbuh sehat secara politik dan budaya," ujarnya kepada CNN Indonesia. (abm)