Polisi: Panitia Festival Belok Kiri Tak Pegang Izin

Abraham Utama dan Prima Gumilang, CNN Indonesia | Sabtu, 27/02/2016 17:24 WIB
Polisi: Panitia Festival Belok Kiri Tak Pegang Izin Pematung sekaligus Ketua Komite Penyelenggara Festival Belok Kiri Dolorosa Sinaga memberikan keterangan pada wartawan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (27/2). Pihak pengelola Galeri Cipta II dan kepolisian melarang penyelenggaraan Festival Belok Kiri karena alasan administrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Jakarta Pusat Komisaris Suyatno mengatakan, panitia Festival Belok Kiri tidak dapat menggelar kegiatan di Taman Ismail Marzuki karena tidak mengantongi izin dari aparat keamanan.

"Mereka memang tidak berizin," ujarnya kepada CNN Indonesia, melalui sambungan telepon, Sabtu (27/2).

Di sisi lain, sekitar pukul 14.00 WIB, sekelompok orang berunjuk rasa menentang Festival Belok Kiri. Mereka membawa beberapa spanduk yang menolak komunisme dan kegiatan yang berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia.


Suyatno mengatakan, kepolisian telah menerbitkan surat izin kepada massa tersebut. Sesuai Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyatakan Pendapat di Muka Umum, ia berkata, kepolisian wajib memastikan demonstrasi itu berlangsung aman.
Kemarin, Gerakan Pemuda Cinta Bangsa (GPCB) menuding Festival Belok Kiri sebagai kegiatan komunis gaya baru.

“Kami akan diadu domba lagi terkait isu komunisme. Ini salah satu kekuatan komunis gaya baru,” kata Koordinator Presidium GPCB Ujang Rizwansyah dalam konferensi pers ‘Menolak Festival Belok Kiri’ di Sekretariat Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), Menteng, Jakarta.

Festival Belok Kiri mestinya digelar mulai hari ini hingga sepekan ke depan di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta. Festival itu rencananya bakal menghadirkan sejumlah pejabat, akademisi, seniman, aktivis, dan budayawan, di antaranya sejarawan Hilmar Farid, Asvi Warman Adam, Bonnie Triyana, Martin Aleida, Dolorosa Sinaga, Yayak Yatmaka, Pius Ginting, dan Nursyahbani Katjasungkana.

Kegiatan tersebut memuat pemutaran film, bedah buku, diskusi publik, pelatihan menggambar, hingga pembacaan manifesto. Seluruh rangkaian acara yang akhirnya tak diberi izin oleh Kepolisian itu dituduh GPCB “berpaham komunis.”

"Walau disamarkan namanya (festival), tapi kami dapatkan rundown acaranya itu dihadiri kebanyakan tokoh yang kami anggap kelompok kiri," klaim Ujang.

Namun saat ditanya jenis kegiatan apa persisnya dalam Festival Belok Kiri yang dianggap akan menyebarkan paham komunis, Ujang tak menyebutkan dengan jelas. Dia juga tidak mau menyebut tokoh yang menurutnya menyebarkan komunisme.

Ketua Komite Penyelenggara Festival Belok Kiri, Dolorosa Sinaga, mengatakan, kegiatan yang telah dipersiapkan selama satu tahun itu ingin menumbuhkan kesadaran generasi muda tentang propaganda yang dilancarkan Orde Baru.

Mantan Dekan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta itu berkata, pemerintah dan sejumlah kelompok masyarakat masih terus mereproduksi propaganda Orde Baru.

"Propaganda itu berlangsung dalam berbagai bentuk, seperti penindasan dan kebencian. Ini perlu dibongkar agar generasi muda dapat tumbuh sehat secara politik dan budaya," ujarnya kepada CNN Indonesia. (abm/utd)