Status tersebut akan ditetapkan dalam jangka waktu 1x24 jam setelah gagalnya penjemputan paksa terhadap Labora oleh Ditjen Pemasyarakatan, Jumat (4/3).
"Kalau hari ini tidak dapat, besok dia akan masuk ke DPO (Daftar Pencarian Orang)," ujar Wayan kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wayan juga bekerja sama dengan Ditjen Imigrasi. "Kami meminta pencekalan supaya dia tidak bisa lari ke luar negeri," ucapnya.
"Beberapa hari lalu Labora masih dipagari oleh massanya, orang-orang lokal sana," kata Wayan. Massa menyulitkan personelnya menjemput paksa mantan anggota Polres Sorong berpangkat Aiptu itu.
"Kami butuh waktu untuk penyesuaian. Kalau tadinya kami segera bergerak, nanti bisa jatuh korban," tutur mantan Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Jawa Timur itu.
Sejak tahun 2015, Labora diizinkan menjalani terapi bermetode oksigen di Rumah Sakit Raja Ampat. Ia juga pernah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pertamina, Sorong.
Namun sejak saat itu pula, Labora disebut menyalahgunakan izin itu untuk pulang ke rumahnya.
"Karena dia pulang ke rumah, kami mencarinya. Nyata dia tidak ingin dibawa kembali ke lapas oleh petugas kami," kata Wayan.