"Saat ini masih tarik ulur, tawar-menawar. Kalau kebijakan Panglima TNI memberikan penghargaan kepada anak saya dan seluruh korban pesawat itu mau dimakamkan di Kalibata, saya mengharapkan jenazah dimakamkan di kampung halamannya," kata Kisus di Cilacap, Jawa Tengah, Senin (21/3).
Kisus mengaku mengetahui kabar kecelakaan yang menimpa pesawat helikopter TNI Angkatan Darat tersebut, dari berita naksah berjalan di layar televisi pada Minggu (20/3) malam.
Selanjutnya, kata dia, Komandan Skadron 21/Sena Pondok Cabe menelepon dari Jakarta sekitar pukul 20.00 WIB, untuk memberi kabar mengenai kecelakaan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengaku tidak mendapat firasat apapun terkait musibah yang akan dialami anak sulung dari tiga bersaudara itu.
Siang hari sebelum kecelakaan, Bangkit juga sempat mengirim pesan singkat ke nomor telepon seluler ibunya.
Dia mengatakan Bangkit yang sudah berdinas di Skadron 21/Sena Pondok Cabe selama enam tahun itu, rencananya bertugas di Poso selama dua bulan dan baru dijalani selama tiga hari.
Bangkit Dirgawan merupakan anggota Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) yang menjadi salah satu korban meninggal dalam peristiwa jatuhnya pesawat helikopter di Desa Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, kemarin sore.
Ia bertugas sebagai Avionic di helikopter milil TNI Angkatan Darat itu. Jenazahkanya kini sudah diidentifikasi dan siap diterbangkan ke Jakarta.
Korban lain dalam kecelakaan ini adalah yakni Komandan Korem 132/ Tadulako Kolonel Syaiful Anwar, Pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) Kolonel Ontang, Pejabat Badan Intelijen Strategi Kolonel Herry, Letnan Kolonel Teddy, Kepala Penerangan Korem 132/Tadulako Mayor Faqih, Dokter Korem Kapten Yanto, Prajurit Dua Kiki , Kapten Agung (pilot), Letnan Satu Wiradi, Letnan Dua CPN Tito, Sersan Satu Bagu, dan Sersan Dua Karmin. (sur/antara)