Jokowi Sampaikan Belasungkawa Atas Kecelakaan Heli di Poso

Utami Diah Kusumawati, CNN Indonesia | Senin, 21/03/2016 16:14 WIB
Jokowi Sampaikan Belasungkawa Atas Kecelakaan Heli di Poso Presiden Jokowi menyampaikan belasungkawa atas kecelakaan helikopter milik TNI AD yang menewaskan 13 perwira di Kasiguncu Kecamatan Poso Pesisir, pada Minggu (20/3). (CNN Indonesia/Alfani Roosy Andinni)
Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Joko Widodo menyampaikan belasungkawa atas kecelakaan helikopter milik TNI AD yang menewaskan 13 perwira di Kasiguncu Kecamatan Poso Pesisir, pada Minggu (20/3). 

"Pertama-tama, saya turut berduka cita dan berbelasungkawa atas meninggalnya perwira TNI dan BIN dalam tugas di Poso," kata Jokowi di Kantor Staf Presiden sesaat sebelum rapat terbatas, Senin (21/3).

Jokowi mendoakan semoga arwah para prajurit TNI dan BIN yang tewas dalam melaksanakan tugas negara tersebut diterima oleh Tuhan YME.

Adapun, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso mengaku berduka karena kehilangan salah satu anak buah BIN di Poso.

Sutiyoso mengatakan salah satu dari 13 orang perwira yang tewas merupakan personel BIN dengan pangkat Kolonel, yakni Kol Infanteri Ontang. 

"Aku sedih sekali prajurit mati dalam operasi. Anak itu baru bergabung tiga bulan dengan BIN," kata Sutiyoso ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan.

Sutiyoso mengatakan pihaknya saat ini masih menunggu hasil investigasi yang dilakukan atas kecelakaan helikopter tersebut. 
"Kan, harus dilakukan penelitian. Namun yang saya tau pesawat itu sangat tangguh. Oleh karena itu, kita tunggu hasil investigasi," ujar Sutiyoso.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan Tentara Republik Indonesia Mayor Jenderal Tatang Sulaiman menjelaskan, helikoper jenis Bell 412 EP dengan nomor HA 5171 milik TNI AD jatuh di Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah pada Ahad (20/3) petang tadi, tepatnya sekitar 35 menit setelah lepas landas.

"Perjalanan tadi kalau berangkat 17.20 WITA, kejadian jatuh 17.55 WITA, berarti (jarak antara titik keberangkatan ke posisi jatuh) sekitar 35 menit perjalanan dengan helikopter. Kira-kira demikian," ujar Tatang di Mabes TNI CIlangkap, Jakarta Timur.

Tatang pun enggan berspekulasi apakah helikopter tersebut tengah melewati wilayah pengejaran kelompok teroris Santoso sebelum akhirnya jatuh.

"Pesawat, kan, jauh tinggi di atas, bagaimana mau (mengetahui apakah melewati wilayah pengejaran kelompok Santoso atau tidak). Sepuluh menit mau mendarat kan berarti masih tinggi," kata Tatang.



(bag)