Masyarakat Terpecah Sikapi Pabrik Semen Gunung Kendeng

Aulia Bintang, CNN Indonesia | Rabu, 13/04/2016 16:01 WIB
Masyarakat Terpecah Sikapi Pabrik Semen Gunung Kendeng Sembilan perempuan asal Pegunungan Kendeng, Kab Rembang, Jawa Tengah, melakukan aksi protes dengan merendamkan kaki mereka menggunakan semen di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 12 April 2016. Aksi warga Kendeng ini guna menolak pembangunan pabrik semen di wilayah mereka yang diyakini menyebabkan kerusakan lahan pertanian dan lingkungan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sembilan petani perempuan yang berasal dari kawasan Pegunungan Kendeng, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menyemen kaki sebagai aksi menolak eksistensi pabrik semen di kawasan pegunungan itu. Pabrik semen di kawasan pegunungan telah memberikan dampak negatif  dari berbagai aspek, mulai aspek sosial hingga lingkungan.

Salah satu perwakilan petani yang hadir, Joko Prianto menjelaskan salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat adalah dampak sosial di antaranya membuat masyarakat terpecah.

"Saat perusahaan semen masuk banyak warga yang mulai terkotak-kotak, padahal sebelumnya rumpun," kata Joko saat ditemui di depan Istana Merdeka, Rabu (13/4).
Joko menambahkan banyak masyarakat di kawasan tersebut yang tergiur dengan tawaran yang diberikan oleh perusahaan pabrik semen tersebut hingga akhirnya bersedia menjual lahan mereka. Namun ada juga masyarakat yang hingga kini tetap tegas menolak keberadaan pabrik semen di kawasan itu. 


Masyarakat beralasan, dampak lingkungan yang diakibatkan oleh kemunculan pabrik semen tak kalah besar dari dampak sosialnya.

"Kondisi di Kendeng itu tidak layak untuk dijadikan pabrik semen atau pertambangan, apalagi kondisi air di sana sudah mengkhawatirkan," katanya.

"Truk-truk yang lalu lalang di kawasan itu juga membuat debu-debu beterbangan dan mengganggu aktivitas warga."
Sembilan petani perempuan menyemen kakinya dengan harapan Presiden Indonesia Joko Widodo berkenan untuk menemui mereka. Mereka berharap Jokowi bisa menghentikan aktivitas tambang semen yang sudah berjalan selama 667 hari.

Jika Jokowi tak kunjung menemui para petani perempuan tersebut, maka mereka tak akan melepaskan cor yang sudah menempel di kaki mereka selama satu hari. (pit/pit)