Tidak ada rumah, perahu pun jadi. Sebagian warga Pasar Ikan yang notabene bermata pencaharian sebagai nelayan kini menyulap perahu mereka menjadi hunian sementara mereka.
Alih-alih menempati rumah susun yang telah disediakan pemerintah provinsi, sebagian masyarakat memilih bertahan di perahu yang bersandar di bantaran sungai sekitar bekas Pasar Ikan. Mereka menolak pemindahan karena alasan ekonomis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain karena biaya sewa rumah susun yang harus dikeluarkan, Ruswan bersama kekuarga enggan direlokasi karena lokasi rusun jauh dari kawasan tempat ia biasa mencari ikan.
Sekitar 200 warga masih bertahan di bantaran sungai di atas perahu. Sebagian ada yang tinggal di perahu sendiri namun tidak jarang ada yang ikut mengungsi di perahu warga lainnya.
Akibat penggusuran itu tidak sedikit kepala keluarga harus kehilangan nafkah. Perahu yang menjadi alat produksi kini berubah fungsi sebagai tempat penyimpan perabotan rumah tangga.
"Suami mau cari ikan ke laut juga tidak bisa karena perahu isinya barang-barang semua. Kalo dipakai melaut saya dan anak-anak tinggal di mana? Ya jadi kita sekarang bisanya hanya nyari besi saja untuk dijual," kata Okta.
"Intinya kami di sini minta perhatian dari pak Ahok, boleh digusur asal nasib kami kedepannya juga diperhatikan. Ibarat sampah saja dikasih tempat, masa kita manusia tidak?" keluh Ruswan.
Menurut Ruswan, Pemerintah seakan tidak meberikan waktu bagi mereka sebelum dilangsungkannya penggusuran. Mereka sudah pernah berbicara dan bernegosiasi dengan pihak Pemprov untuk meminta pengunduran waktu penggusuran. Namun tak digubris.