"Satuan pengamanan harus dilatih perlu deteksi dini untuk setiap kondisi yang patut diduga berpotensi membuat gangguan," kata Sugeng dalam sebuah seminar penanggulangan terorisme di hotel dan restoran di Nusa Dua, Bali, Minggu (23/4).
Kepolisian menurut Sugeng siap membantu hotel dan restoran bila membutuhkan pelatihan untuk satuan pengamanan dalam upaya pencegahan tindakan teror.
Dengan adanya tenaga keamanan yang terlatih, diharapkan petugas tidak lengah dalam memeriksa setiap pengunjung termasuk tamu yang menginap di hotel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini menurutnya, CCTV telah banyak membantu kinerja kepolisian mengungkap permasalahan salah satunya peristiwa peledakan bom di hotel JW Mariot di Jakarta.
Pengelola hotel dan restoran juga diharapkan mendayagunakan aparat keamanan adat Bali atau pecalang untuk membantu pengamanan wilayah.
Bali sudah dua kali diguncang aksi teror. Tragedi Bom Bali I terjadi pada tahun 2002. Bom meledak di du tempat hiburan malam yang menewaskan 202 orang. Sementar tragedi Bom Bali II terjadi pada tahun 2005. Saat itu bom meledak di tiga tempat di Kuta dan Jimbaran. Sebanyak 23 orang tewas dalam ledakan tersebut. (sur/antara)