"Awalnya kami dukung, karena dijanjikan akan dibayar per meter, tapi tiba-tiba Pak Camat bilang bapak harus ikhlaskan tanahnya, kalau mau jual saja ke Madura (tukang jual beli besi) supaya dapatkan untung," ujarnya saat ditemui CNNIndonesia.com di kediamannya di Bidaracina, Jakarta Timur, Jumat (29/04).
Yusuf menolak menerima penggusuran pelebaran kali dan pembangunan sodetan Kali Ciliwung. Sekuat ingatannya, 57 tahun sudah ia bermukim dan mengaku memiliki surat rumah berupa Akte Jual Beli (AJB). Tak sendiri, 40 rumah yang tinggal di RT 007 ini pun diakuinya memiliki AJB.
Lihat juga:Ahok Berkeras Akan Bongkar Bidaracina |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia bersama warga telah melakukan aksi demonstrasi di depan kantor Balai Kota. Namun tak berhasil, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tak merespon aksi mereka. Tak berhenti di sana, ia bersama seorang temannya menghampiri Istana Negara untuk bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo. Sayangnya, hanya pesan berupa surat yang dapat mereka kirimkan kepada Presiden.
Rata-rata warga Bidara Cina berumur lanjut dan berstatus janda. Yusuf adalah ketua RT sejak 2013, memaparkan warga ingin dibayar untuk pulang ke kampung halamannya masing-masing. Ia pun ingin kembali ke kampung halamannya di Banten untuk hidup bertani.
Ega (50) adalah ibu satu anak. Ia sebisa mungkin tidak mau tinggal di rusun jika rumahnya mengalami penggusuran. Sudah cukup ia mendengar cerita dari teman-temannya tinggal di rusun tidak menyenangkan, bahkan susah untuk membuka usaha.
Ega adalah seorang janda, ia membuka warung di rumahnya untuk mencukupi kebutuhan dan mencukupi anaknya yang masih kelas dua SMK. Ia yang tinggal sejak 2001 di RT 007/RW 014 ini ingin agar rumahnya diganti jika harus alami penggusuran.