Tak hanya membajak kapal, mereka menyandera 10 ABK. Peter Tonsen asal Batam, Julian Philip asal Minahasa, Elvian Alvis asal Jakarta Utara, Mahmud asal Banjarmasin, Surian Syah asal Kendari, Surianto asal Wajo, Wawan Saputra asal palopo, Bayu Oktavianto asal Klaten, Reynaldi asal Makassar, dan Wendi Rakhadian asal Padang, lebih dari sebulan menjadi sandera.
Pemerintah Indonesia berang, pun Filipina. Komunikasi intensif dilakukan oleh kedua negara agar 10 ABK asal Indonesia tersebut bisa dibebaskan tanpa harus ada aksi militer Filipina ataupun Indonesia. Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla berkali-kali menegaskan bahwa pemerintah selalu mengutamakan penyelamatan dengan cara negosiasi dan diplomasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penolakan untuk membayar tebusan pun berimbas panjang karena proses pembebasan terhadap 10 ABK tersebut memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Akhirnya kelompok Abu Sayyaf melepaskan 10 ABK pada Ahad (1/5) atau satu bulan lebih pasca peristiwa pembajakan.
Tiba di Indonesia pada Ahad malam atau Senin dini hari (2/5) 10 ABK itu langsung dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto untuk diperiksa kesehatannya. Pernyataan Jokowi pun terbukti, 10 ABK tersebut tak memiliki masalah fisik maupun psikis setelah diperiksa oleh tim dokter RSPAD.
"Pemeriksaan oleh tim dokter spesialis hasilnya adalah kondisi sehat dan Alhamdulillah prima sekali. Kejiwaan mereka stabil dan tak ada gangguan apapun," ujar Wakil Kepala RSPAD Kolonel (Ckm) Bambang Dwi HS.
Diungkapkan oleh Bambang setelah tim dokter kejiwaan memeriksan 10 ABK tersebut. Menurutnya kondisi psikis para ABK memang baik tapi kondisi itu lebih baik lagi setelah mereka bisa kembali mendengar orang berbincang dengan bahasa Indonesia setelah sebelumnya selama lebih dari satu bulan tak bisa mendengar bahasa nasional tersebut.