"Kami berkali-kali memberikan sosialisasi, baik di penampungan, tempat pelatihan, atau sosialisasi di tempat tujuan agar mereka tidak mudah tergiur bujuk rayu siapapun," ujar Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja, Hery Sudarmanto di Jakarta, Rabu (1/6).
Hery menuturkan, sosialisasi seperti itu memang tidak dapat menghinidarkan TKI dari jerat kejahatan di negara tujuan. Ia berkata, kasus yang menimpa TKI asal Ponorogo, Jawa Timur, Rita Krisdianti, merupakan contoh teranyar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Rita urung pulang. Ia justru bermigrasi ke Makau karena janji seorang teman berinisial ES. Di kepulauan yang masuk administratif China itu, Rita dijanjikan bisnis pakaian.
Teman Rita itu berkata, isi koper itu adalah pakaian yang akan dijual Rita di Ponorogo.
“Pemerintah sudah berupaya melalui Kemlu dengan memberikan pendampingan intensif agar Rita dapat kemudahan atau keringanan hukuman yang tadinya hukuman mati jadi bisa berkurang,” kata Hary.
Menurut data Kementerian Luar Negeri, saat ini terdapat 154 WNI yang terancam hukuman mati di Malaysia. Sebanyak 102 atau 66 persen di antara mereka tersangkut kasus narkotik.
Terkait fakta hukum itu, Kemlu pun berjanji berkoordinasi intensif dengan Badan Narkotika Nasional. Otoritas Kemlu menduga, beberapa WNI yang diancam hukuman mati itu bukanlah pelaku, melainkan korban jejaring narkotik global.