Puasa di Negeri Seberang: Rindu Azan di Musim Panas

Resty Armenia, CNN Indonesia | Selasa, 07/06/2016 13:00 WIB
Selain waktu berpuasa yang lebih panjang, apa saja pengalaman menarik menjalani ibadah Ramadan di Kentucky, AS; di Seongnam, Korsel; dan juga Lund, Swedia? Ilustrasi perbedaan puasa di berbagai negara. (Detikcom/Andhika Akbarayansyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Louisville, Kentucky, Amerika Serikat
Musim Panas, 2008

Dayang Suri menengok arlojinya. Waktu menunjukkan pukul 13.45 waktu setempat. Dia bergegas mengambil perlengkapan untuk menunaikan ibadah salat zuhur.

Dayang berjalan menuju salah satu gudang milik pusat perbelanjaan tempatnya bekerja paruh waktu. Menurutnya, gudang tersebut adalah tempat yang pas untuk mendirikan salat, karena tak banyak orang di sana, sehingga dia bisa 'berkomunikasi' dengan Tuhan dengan lebih khusyuk.


Namun beberapa langkah sebelum menginjakkan kaki di gudang, Dayang menyadari ada bayangan lelaki tegap yang mengikutinya. Karena penasaran, dia membalikkan badan.

Setengah terperanjat, Dayang mendapati seorang petugas sekuriti pusat perbelanjaan berdiri di depannya. Lelaki bertubuh gempal itu menatapnya dengan penuh kecurigaan. Dayang menghela napas panjang dan mencoba kembali tenang.

"Ada masalah? Apakah Anda ingin melihat saya salat?" tanya Dayang kepada petugas sekuriti itu.

Dayang sebenarnya masih tak percaya ketika mengetahui ada petugas sekuriti yang mencurigai gerak-geriknya dan mengikutinya sampai gudang. Namun dia berpikir bahwa itu merupakan hal yang wajar, sebab tindakan mengutil barang di gudang oleh karyawan merupakan salah satu masalah serius di pusat-pusat perbelanjaan.

Ilustrasi. (Getty Images)
"Lagipula cara Muslim beribadah itu masih asing di Amerika, banyak orang tidak mengetahui," kata Dayang menerka kemungkinan yang terjadi.

Dayang telah menetap di Kentucky sejak tahun 2005. Dia dipersunting seorang berkebangsaan Amerika Serikat dan telah dianugerahi seorang putra yang kini berusia 10 tahun bernama Abraham. Mengikuti Dayang, suami dan anaknya memeluk agama Islam.

Wanita kelahiran 43 tahun silam ini menuturkan, sebagai seorang Muslim, ia selalu berpuasa setiap Ramadan tiba. Begitu juga tahun ini. Dayang mengaku tak pernah menemukan kesulitan berarti, meski harus menjalani puasa selama sekitar 18 jam penuh.

"Di sini kami sahur sekitar pukul 04.00 dan berbuka mendekati pukul 21.30. Tapi saya tidak pernah memikirkan panjangnya waktu puasa, karena akan membuat stres. Jadi dijalani saja," ujar Dayang kepada CNNIndonesia.com.

Biasanya Dayang bangun jam 4 pagi untuk menyantap sahur. Makanan sisa semalam menjadi pilihan karena lebih praktis dan tinggal dipanaskan. “Selesai sahur, saya biasanya langsung kembali tidur. Ini kebiasaan buruk saya," katanya.

Dayang harus bangun pukul 07.00 setiap hari karena bekerja paruh waktu sekira pukul 08.30 dan kembali pukul 16.00. Setelah itu, dia menjemput Abraham di Perkemahan Musim Panas.

"Abraham sebenarnya meminta untuk ikut berpuasa, tapi saya khawatir karena dia ikut Perkemahan Musim Panas dan pasti akan banyak melakukan kegiatan outdoor. Jadi saya bilang padanya untuk berpuasa sekuatnya saja," tutur Dayang.

Menurut wanita asal Jakarta itu, ketika berpuasa, akhir pekan jauh lebih berat dijalankan ketimbang hari kerja. Bagi Dayang, menjalani ibadah puasa lebih terasa justru karena tidak bekerja.

Meski demikian, Dayang merasa senang karena di wilayah Louisville ada dua masjid yang cukup dekat dari rumahnya. Sejumlah komunitas Muslim, yang mayoritas berasal dari Pakistan, juga bermukim di area itu.

"Tapi tetap saja, saya rindu kebersamaan, suara azan, makanan-makanan khas Ramadan, dan waktu berpuasa yang sudah pasti di Indonesia," ujarnya.

Seongnam, Gyeonggi, Korea Selatan
Musim Panas, 2012

Sekitar pukul 16.00 WIB, setelah mengikuti kelas Bahasa Korea di The Academy of Korean Studies, Ayu Merlita mengajak kawan sekamarnya bergegas ke kafetaria kampus untuk mengambil makan. Tak lupa, dia memungut dua kupon makan siang dan kotak makan yang diletakkan di atas kulkas.

Kedua perempuan asal Jawa Timur itu berjalan cepat menuruni jalanan kampus yang konturnya berbukit. Tiba di kafetaria yang sudah sepi, Ayu disambut dua orang wanita paruh baya yang merupakan pegawai di satu-satunya tempat makan mahasiswa di kampus itu.

"Cepat ambil makanannya, kami sudah mau tutup. Makanan di sebelah ujung itu ada daging babi, jadi jangan disentuh," ujar salah satu pegawai yang langsung mengetahui Ayu seorang Muslim karena mengenakan hijab.

Ilustrasi. (iStock)
Ayu langsung menyendok berbagai macam lauk-pauk, kimchi, nasi, sup, serta sayuran lainnya dalam porsi yang sangat banyak. Karena selain dibebaskan oleh pegawai kafetaria untuk mengambil sebanyak apapun, Ayu juga harus menyimpan makanan untuk disantap saat sahur.

Ayu membawa dua kotak makan yang penuh berisi makanan dari kafetaria. Ia berjalan kembali ke asramanya. "Puasa masih empat jam lagi," batinnya seraya menaiki puluhan anak tangga menuju kamar.

Di Korea Selatan, subuh tiba sekitar pukul 03.00, sedangkan matahari mulai terbenam sekira pukul 20.00 waktu setempat. Dengan demikian, total waktu berpuasa di Negeri Ginseng adalah 17 jam.

Ramadan biasanya datang saat musim panas yang kadangkala hawanya lebih panas daripada di Jakarta. Karena pada saat itu Ayu tinggal di asrama kampus, dia menemukan kesulitan kala sahur dan berbuka puasa.

Hal ini karena kampus hanya memberikan akomodasi makan sehari-hari berupa kupon kafetaria. Sehingga jika tidak ingin mengeluarkan uang ekstra, dia harus makan di sana. Belum lagi, kafetaria itu hanya buka dari pukul 07.00 sampai 16.00.

“Kalau mau beli makan harus jalan kaki ke luar area kampus. Itu lumayan jauh dan jalannya berbukit. Maka saya biasanya ambil makan yang sangat banyak pada saat tukar kupon makan siang di kafetaria," ujar Ayu kepada CNNIndonesia.com.

Wanita kelahiran 12 Mei 1990 itu mengaku, kesulitan saat Ramadan sesungguhnya hanya dua. Pertama, saat sahur dan berbuka di kampus. Kedua, saat salat di tempat umum, karena tahun 2012, Korsel masih belum memiliki banyak tempat ibadah untuk Muslim seperti akhir-akhir ini.

"Dulu di kampus saya salat di dalam kamar atau di pojok belakang kelas. Tapi kalau di tempat umum susah dapat tempat. Sekarang Korsel sudah cukup Moslem-friendly," katanya.

Ayu bercerita, lama waktu berpuasa tidak pernah menjadi halangan baginya dan teman-temannya. Sebab di Korsel, dia tetap menjalani aktivitas belajar dan bermain seperti pada saat tidak berpuasa.

Saat waktu berbuka hampir tiba, Ayu dan kawannya akan mencari toko atau pedagang kaki lima yang menjual jajanan khas Korea yang terkenal sangat enak, seperti tteokbokki, odaeng, baby kimbap, bindaetteok, hotteok, bungoppang, dan lainnya.

"Karena mayoritas jajanan itu terbuat dari tteok (kue beras), tepung, atau ikan, jadi kalau beli porsi agak besar sedikit pasti sudah kenyang," katanya.

Ayu mengatakan, suara azan adalah hal yang paling membuatnya rindu Ramadan di Indonesia. Dengan mendengarkan azan, ia bisa mengetahui kapan tepatnya waktu sahur, berbuka, dan waktu kelima salat wajib.

"Kalau makanan, saya sudah bisa beradaptasi. Kalau buka bersama, saya punya sejumlah teman Indonesia dan teman Muslim di sini. Tapi kalau azan, tidak bisa saya dengarkan dengan jelas, kecuali saya di masjid besar yang terletak di Itaewon," ujarnya.

Lund, Swedia
Musim Panas 2015

Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 ketika Ferawati melangkahkan kaki dari asrama di Kompleks Delphinen menuju salah satu gedung di kampusnya, Lund University. Hari itu merupakan hari ke sekian dia menjalani ibadah puasa Ramadan di Swedia.

Dalam perjalanannya itu, sesekali Fera—panggilan Ferawati—menguap. Suhu udara di luar ruangan yang berada di kisaran 20 derajat celcius mendukung si kantuk lebih buas menyerang.

Selain itu, jadwal tidur Fera pada saat itu memang agak teracak, karena harus menyesuaikan waktu sahur dan buka puasa, serta salat wajib yang cukup ‘nyentrik’ jika dibandingkan dengan jadwal negara lainnya.

Di beberapa bagian negara Swedia, termasuk Lund, waktu subuh adalah sekitar pukul 02.30 waktu setempat. Karenanya, Fera harus menyiapkan dan menyantap sahur sejak pukul 01.30. Dia menunaikan salat subuh dan melanjutkan tidurnya hingga pukul 07.00, karena harus bersiap berangkat ke kampus.

Musim Panas seharusnya menjadi momen bagi warga Swedia untuk berlibur dan menikmati terik matahari yang jarang bersinar di musim lainnya. Namun alih-alih memanfaatkan hari liburnya, Fera justru mengambil Kelas Musim Panas, yakni dengan membantu proyek penelitian mahasiswa S3 di kampusnya.

Fera mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi magister tentang teknologi makanan dan nutrisi di Lund University selama dua tahun. Selepas lulus dari Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, dia bekerja di salah satu perusahaan terkenal di Indonesia, sebelum akhirnya menjejakkan kakinya di Swedia.

Sesampainya di kampus, Fera langsung sibuk mengerjakan analisis proyek penelitiannya. Hal itu berlangsung berjam-jam hingga sekitar pukul 17.00.

Dia merasa senang bisa menyibukkan diri dan terlena dengan pekerjaan, sehingga bisa sedikit ’lupa’ bahwa dia tengah berpuasa.

Pada hari pertama puasa, dia menginformasikan kepada pengawas penelitian dan rekannya bahwa dia berpuasa hingga 30 hari ke depan sehingga tidak bisa ikut makan siang bersama. Sontak rekan kerjanya itu bertanya-tanya perihal ibadah yang dijalankan Fera.

Menurut teman-teman Fera, durasi puasa yang dijalankan sangat panjang. Meski pada akhirnya mereka menghormati pilihan Fera.

Rampung dengan pekerjaannya, wanita kelahiran 10 Februari 1988 itu biasanya akan langsung kembali ke asrama untuk ‘tidur siang’ selama dua hingga tiga jam dan dilanjutkan memasak di dapur umum asrama untuk persiapan berbuka. Jika bosan dengan opsi itu, Fera memilih jalan-jalan ke taman terdekat, belanja makanan beku untuk disantap saat buka dan sahur, atau berkeliling pusat Kota Lund.

Fera mengikuti waktu berpuasa berdasarkan jadwal yang telah disebarkan Lund Islamic Center. Sekitar pukul 21.30, ia akhirnya berbuka puasa. Ya, pada Musim Panas, waktu siang sangat panjang di negara-negara Skandinavia, termasuk Swedia. Hal itu berarti, umat Muslim di wilayah itu harus berpuasa sekitar 19 jam.

“Seringkali buka puasa makan sedikit, lalu salat maghrib. Kemudian makan berat sambil menunggu isya, sekitar jam 23.30. Kalau masih lapar ya makan lagi. Tapi biasanya masih kenyang sampai sahur, jadi kadang digabung buka dan sahur,” ujar Fera kepada CNNIndonesia.com.

Fera mengaku terkadang menyempatkan tidur sejenak, sekitar satu sampai dua jam setelah tarawih, sebelum akhirnya menyantap sahur. Pada jam-jam ini, ia juga biasanya menelepon keluarganya untuk mengobati rasa rindu.

“Saya selalu menelepon ke rumah saat sahur atau kadang siang hari waktu Swedia. Selain keluarga, saya kangen suara azan, makanan saat berbuka yang bermacam-macam, dan salat tarawih berjamaah,” katanya.

Fera bercerita, panjangnya durasi berpuasa bukanlah menjadi halangan utama ibadahnya. Tantangan terbesar justru menjaga ibadah karena tak dapat dipungkiri bahwa jadwal ibadah yang berbeda dengan Indonesia dan tinggal di negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim kadang menimbulkan demotivasi.

“Waktu itu pernah jalan-jalan di sekitaran pantai yang setiap Musim Panas banyak toko es krim yang buka. Saya hanya bisa menatap nanar kepada orang-orang yang makan es krim jumbo berbagai macam rasa sambil berjemur di pantai,” ujarnya seraya terkekeh.

Melanjutkan ceritanya, Fera menuturkan bahwa salah seorang teman Fera yang juga warga negara Indonesia kala itu menyahut, “Aduh es krim itu enak sekali. Kita kan bisa dihitung musafir, jadi ayo kita buka saja!”

Mendengar celetukan temannya itu Fera kontan tertawa, namun tetap memutuskan untuk melanjutkan puasa meski harus cepat-cepat meninggalkan pantai itu.

(rdk)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK