Oleh sebab itu, menurut Paryanto, pembentukan Badan Intelijen Pertahanan dibutuhkan untuk menggantikan kerja intelijen di Direktorat Anstra.
"Ini (Anstra) kuno. Kita lihat tantangan sekarang, harus upgrade," kata Paryanto di kantor Kemhan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (16/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paryanto pun pernah berkecimpung di Direktorat Anstra selama lebih dari tiga tahun. "Pada waktu itu konsensusnya: semua dari jabatan direktur sampai ke bawah, orang intel semua," kata dia.
Bagi Paryanto, semua itu menyangkut pertahanan negara, dan karenanya perlu ada penyempurnaan dalam organisasi yang mengurusi bidang intelijen agar kebijakan yang dihasilkan dari informasi intelijen dapat dioperasionalkan di lapangan.
Hal tersebut, kata Paryanto, sulit dicapai karena Direktorat Anstra dinilai telah usang. "Anstra itu 14 tahun lalu, tidak masuk akal lagi dari segi tantangan dan kemampuan personel. Jadinya asal-asalan.”
Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Anstra menyelenggarakan fungsi perumusan kebijakan di bidang analisis strategis dalam negeri, Asia Pasifik, Amerika, Eropa, Afrika, organisasi internasional, dan perkembangan global. Analisis strategis tersebut menjadi inti kerja intelijen di Ditjen Strahan.
Kini setelah Direktorat Anstra dianggap kuno, Kemhan hendak mendirikan Badan Intelijen Pertahanan yang merupakan transformasi dari Badan Instalasi Strategis Nasional, satuan kerja di Kemhan yang dipimpin Paryanto. Bainstranas pun, ujar Paryanto, selama ini sesungguhnya telah menjalankan fungsi intelijen.
"Namun selama ini (fungsinya) tidak sesuai dengan namanya. Kami hanya mengubah nama. Pengelolanya sudah ada," ujar Paryanto.