Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian Taufik Andrie menuturkan serangan di bulan Ramadan bukan hal yang pertama kalinya, sejak adanya fatwa dari Juru Bicara ISIS Abu Muhammad al Adnani. Adnani, seperti dikutip Andrie, membenarkan serangan di bulan suci tersebut.
Diketahui, ledakan bom bunuh diri terjadi di Mapolresta Surakarta, Solo, Jawa Tengah pada pagi ini. Bom itu diduga dilakukan oleh satu pelaku yang memaksa masuk ke markas kepolisian itu dengan sepeda motor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ini diduga kompetisi antara kelompok ISIS dan JI, siapa yang lebih berani atau siapa yang lebih konkret dibandingkan dengan duduk-duduk saja. Ini mau menunjukkan siapa yang lebih superior,” kata Andrie ketika dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Selasa (5/7).
Di sisi penegakan hukum, Andrie menuturkan sebenarnya kepolisian sudah bisa mendeteksi tentang dinamika kelompok dengan adanya sejumlah penangkapan. Namun, paparnya, yang sulit dilacak adalah tentang rencana aksi tersebut, macam kapan dan di mana aksi itu dilakukan.
Andrie juga menuturkan yang harus dievaluasi adalah mengapa kepolisian tetap menjadi terget serangan, macam peristiwa Bom MH Thamrin pada Januari lalu. Dia menduga apakah hal itu berkaitan dengan aksi balas dendam atau kepolisian memang dianggap kepanjangan tangan dari pemerintah yang kafir.
Dia menuturkan pekerjaan lain yang harus diselesaikan terkait dengan terorisme adalah upaya pencegahan maupun selama terpidana menjalani hukuman di penjara dan usai dipenjara. Upaya deradikalisasi, kata Andrie, menjadi persoalan tersendiri dalam masalah tersebut. (asa)