Kisah Buruh Migran Rayakan Lebaran di Perantauan

Resty Armenia, CNN Indonesia | Rabu, 06/07/2016 13:50 WIB
Salat Idul Fitri di Masjid Shiratal Mustaqim, Ansan, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lebaran identik dengan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Namun karena alasan pekerjaan, banyak yang tak bisa merayakan hari kemenangan jauh dari keluarga. Salah satunya adalah para buruh migran yang mencari nafkah di negeri orang. 

Namun meski jauh dari kampung halaman dan sanak keluarga, Lebaran tetap harus dirayakan bersama handai tolan sesama perantauan. 

Sukaryadi, Tahun Ketiga Lebaran di Korea Selatan
 
Sukaryadi menyisir rambut, kemudian membenahi kerah bajunya. Ia bersiap untuk melaksanakan salat ied di Masjid Shirathal Mustaqim yang terletak di Ansan, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Masjid yang dikelola oleh komunitas muslim Indonesia itu hanya berjarak 10 menit berjalan kaki dari rumah kontrakannya.


Karena Hari Raya Idul Fitri tahun 2015 bertepatan dengan hari Rabu, 17 Juli, maka sekira pukul 07.30 pagi jalanan sudah dipenuhi warga Ansan yang berlalu-lalang untuk berangkat bekerja. Tentu tak seperti pemandangan jalanan yang lengang di Ibu Kota Jakarta kala memperingati hari besar keagamaan Islam itu.

Lebaran 2015 menjadi tahun kedua Sukaryadi tidak mudik ke Tulungagung, Jawa Timur. Ia tiba di Negeri Ginseng pada 23 April 2014 dan semenjak saat itu belum pernah kembali ke daerah asalnya hingga sekarang.

"Maka, Lebaran tahun ini (2016) jadi kali ketiga saya tidak pulang ke Tulungagung," ujar Sukaryadi kepada CNNIndonesia.com.

Pria kelahiran 17 Oktober 1974 itu mengaku ada dua alasan mengapa ia tidak bisa mudik setiap tahunnya. Ia menjelaskan, ada perjanjian kerja yang mengikatnya selama bekerja di perusahaan perakitan gardu listrik bernama Geumseong Jeogi itu. Sedangkan cuti tiap tahun tidak disebutkan dalam kontrak kerja tersebut.

"Saya terikat izin tinggal tiga tahun, plus setahun 10 bulan. Jadi untuk cuti itu tidak ada aturan dalam perjanjian kontraknya. Jika ingin cuti, itu hanya kebijakan pabrik. Kalau pabrik mengizinkan ya boleh, kalau tidak menginzinkan ya tidak boleh. Apalagi kalau musim panas begini pekerjaan di pabrik sedang ramai-ramainya," katanya.

Selain persoalan kontrak kerja tersebut, Sukaryadi mengaku sampai saat ini belum berani mengajukan cuti kepada perusahaannya karena merasa uang yang ditabungnya masih belum cukup banyak untuk dibawa pulang ke kampung.

"Saya kan bekerja untuk mengumpulkan duit, jadi ya terkait masalah ekonomi. Karena kalau pulang itu harus beli tiket sendiri. Kalau Lebaran kan harus beri-beri uang juga. Jadi hanya belum cukup persiapan saja," ujarnya.

Meski demikian, Sukaryadi tak menampik fakta bahwa dirinya sangat rindu berkumpul dengan keluarga ketika merayakan Lebaran. “Ya sebenarnya kangen, tapi kan tujuannya merantau itu untuk mencari uang dan mencukupi kebutuhan hidup keluarga, anak dan istri,” katanya.

Untuk mengobati rasa kangennya, Sukaryadi biasanya menelepon keluarganya dengan memanfaatkan aplikasi perpesanan yang tak perlu mengeluarkan biaya mahal. Tak jarang pula ia menggunakan fitur video call supaya bisa melihat raut wajah anggota keluarga yang disayanginya.

“Semenjak 2012 itu kan sudah marak ponsel Android, jadi agak bisa terobati karena setiap hari pulang kerja kami bisa telepon anak dan istri, serta orangtua. Bisa video call lewat Kakaotalk dan Line, lebih mudah,” ujarnya.

Beruntung, Ansan merupakan salah satu kawasan di Korea Selatan yang menjadi pusat berkumpulnya buruh migran asal Indonesia, selain Incheon dan Suwon. Sekitar 5.000 pekerja Indonesia dari berbagai daerah mencari nafkah di kawasan itu. Karenanya, Sukaryadi bisa dengan mudah menghubungi teman-teman lainnya untuk salat ied bersama.

Sepuluh menit berjalan kaki, sampailah Sukaryadi di Masjid Shirathal Mustaqim. Di area rumah ibadah itu terlihat antrean mengular. Orang-orang menyesaki halaman masjid untuk menunggu giliran salat. Dari jauh nampak mayoritas orang yang mengantre untuk masuk itu adalah warga negara Indonesia (WNI), karena secara fisik mereka tidak berbeda jauh dengan Sukaryadi.

Ketua Kelompok Kesenian Jaranan Turonggo Manggolo Budoyo Korea (TMBK) itu bercerita, di Masjid Shirathal Mustaqim salat ied dilakukan tiga kali atau dibagi menjadi tiga gelombang. Gelombang pertama digelar pada pukul 06.30 pagi untuk jamaah asal Uzbekistan. Selang sekitar satu jam, gelombang kedua dilakukan untuk jamaah dari Pakistan dan Bangladesh. Dilanjutkan dengan gelombang terakhir bagi WNI.

Setelah memasuki area halaman dalam masjid, Sukaryadi berbincang dengan sejumlah buruh migran lain yang dikenalnya yang juga tengah menunggu giliran salat. WNI mendapat giliran salat terakhir karena jumlah jamaahnya yang selalu paling membludak setiap tahunnya.

Sekitar jam 08.30, panitia memanggil jamaah Indonesia untuk memasuki area dalam masjid. Sukaryadi dan teman-temannya buru-buru memburu barisan terdepan. Salat berlangsung khidmat hingga rakaat terakhir.

Bagi Sukaryadi, salat tiga gelombang di Masjid Shirathal Mustaqim adalah salah satu pengalaman unik, karena ia tak pernah mendapati fenomena serupa di Tanah Air, meski jamaahnya selalu padat hampir di setiap sudut lapangan atau masjid yang menggelar salat ied.

"Yang saya alami di Ansan adalah tiga gelombang di satu masjid, karena saking membludaknya pas Hari Raya. Apalagi Hari Raya pas hari Minggu, kan banyak yang libur," katanya.

Sejak 2013, papar Sukaryadi, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul sudah tidak lagi menggelar acara salat ied bersama, tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, Pemerintah Kota Seoul telah memasukkan aktivitas salat ied di KBRI Seoul ke dalam daftar hitam (black list).

"KBRI tidak mengadakan salat ied karena sudah kena black list dari Kota Seoul. Dulu tahun 2012 diadakan (salat ied), ternyata teman-teman itu setelah selesai salat di area itu banyak yang membuang sampah sembarangan,” ujarnya.

Lagipula, imbuh Sukaryadi, saat ini sudah ada sejumlah masjid dan musala yang berdiri di setiap kota besar di Korea Selatan. Ia menuturkan, jika di suatu daerah ingin mendirikan masjid atau musala, maka Komunitas Muslim Indonesia (KMI) biasanya akan memberikan bantuan pinjaman uang sewa yang didapat dari uang kas kelompok tersebut.

“Kalau masjid yang di Ansan itu sudah berbentuk bangunan masjid, karena tanahnya sudah dibeli sendiri. Hanya kalau di daerah-daerah lain itu masih menyewa gedung, lalu dijadikan masjid atau musala,” katanya. (sur/rdk)


1 dari 3