Jalur Selatan Bisa jadi Solusi Hindari Kemacetan

Susetyo Dwi Prihadi, CNN Indonesia | Jumat, 08/07/2016 09:01 WIB
Jalur Selatan Bisa jadi Solusi Hindari Kemacetan Kemacetan arus mudik 2016 ( ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam dua minggu terakhir Pulau Jawa seperti berat ke sebelah utara mengingat beban yang harus ditanggung lalu lintas pemudik Lebaran 2016 terutama yang melewati jalur Pantai Utara (Pantura) dari arah Jakarta menuju Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Fasilitas jalan tol Cikampek-Palimanan (Cipali) dan kemudian bersambung ke ruas Pejagan-Brebes justru berujung bencana ketika ribuan kendaraan terjebak kemacetan dan tidak bisa bergerak selama belasan jam.

Kondisi tersebut bertambah parah karena minim area istirahat (rest area).


Mereka yang sudah telanjur terjebak pun tidak bisa memutar berbalik arah karena tidak disediakan tempat putaran darurat.

Sebelumnya, pemberitaan yang gencar mengenai keberadaan jalur tol terpanjang di Tanah Air tersebut membuat sebagian pemudik yang menggunakan mobil tergoda untuk mencoba, termasuk pemudik yang sebenarnya hendak ke wilayah selatan.

Kejadian di tol ruas Cipali dan menjelang pintu keluar Brebes adalah akibat ratusan ribu pemudik mempunyai pikiran yang sama, yaitu menempuh jalur tol baru, sehingga penumpukan kendaraan pun tidak terhindarkan.

Kepadatan lalu lintas di Pantura Jawa, terutama Jawa Barat pernah dikeluhkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Menurut Ganjar, kondisi tersebut membuat Pulau Jawa seolah-olah miring ke utara akibat ketidakseimbangan pembangunan.

Pembangunan infrastruktur untuk menunjang pertumbuhan ekonomi, menurut Ganjar, lebih berpihak ke utara, sementara pembangunan di selatan menjadi jalan di tempat karena kurang mendapatkan perhatian.

Ganjar pun kemudian berjanji untuk memperjuangkan "Jalur Daendels" yang membentang di sepanjang pantai selatan, diawali dari Cilacap, Banyumas, Kebumen dan berakhir di Purworejo.

Sebagian janji yang dilontarkan setahun lalu itu sudah dipenuhi, menyusul jalur antara Cilacap sampai Kebumen sudah tampak mulus dan diperlebar, sehingga memberi kenyamanan bagi pemudik.

Abdul Rohim (45 tahun) adalah salah satu pemudik yang mengaku merasa sangat beruntung memilih mudik melalui jalur selatan saat menuju kampung halamannya di Solo untuk merayakan Lebaran 2016.

Ia tidak ikut-ikutan tergoda oleh rayuan tetangga agar mudik bersama melalui tol Pejagan-Brebes.

Ditemui saat sedang beristirahat di SPBU Ciamis, Jawa Barat, pria yang berdomisili di Ciputat, Banten tersebut mengaku bahwa ia sama sekali tidak pernah menduga kalau pintu keluar tol Brebes Timur akan mengalami macet begitu parah.

Dia juga dikabari oleh tetangganya yang sedang terjebak di tengah-tengah kemacetan menjelang keluar tol Brebes Timur yang juga dikenal dengan sebutan "Brexit" itu.

Tetangga tersebut menyatakan penyesalan karena tidak mengikuti ajakan Abdul Rohim untuk mencoba jalur selatan.

Berbeda dengan kondisi di bagian utara, kondisi jalur pantai selatan justru lebih lancar dan meski terdapat peningkatan volume arus lalu lintas, namun peningkatan tersebut tidak sampai menyebabkan mobil terjebak macet sampai belasan jam.

Dalam perjalanan mudik dari Bekasi Timur melalui jalur selatan dengan memilih jalan alternatif Jonggol-Cariu dan Padalarang, hampir tidak terdapat kemacetan yang berarti.

Setelah perjalanan yang lancar dari Jonggol, halangan pertama terjadi di Padalarang karena adanya pasar tumpah. Tapi perjalanan kembali lancar setelah memasuki tol menuju Cileunyi.

Tantangan berikutnya adalah ketika melintas di "jalur legendaris" Nagreg karena pengemudi harus melewati jalan yang sempit dengan tikungan tajam dan curam.

Mereka yang tidak berpengalaman akan menghadapi masalah besar karena mobil yang dikendarai bisa meluncur berbalik arah saat terjebak dalam kemacetan dalam posisi mendaki.

Jalur Nagreg merupakan satu-satunya kawasan yang paling berbahaya sepanjang jalur selatan dan perlu diwaspadai pemudik, terutama pada hari libur saat lalu lintas padat merayap.

"Kondisi lalu lintas di Nagreg pada saat ini saya kira masih terbilang normal. Jangankan menjelang lebaran, pada hari libur biasa saja macet dan merayap," kata Riri Ridwan, warga Bekasi yang akan mudik ke kampung halamannya di Tasikmalaya.

Titik kemacetan selanjutkan adalah saat pemudik melintas memasuki Kota Tasikmalaya karena harus melewati kawasan pertokoan.

Selanjutnya, perjalanan sampai ke Ciamis, Banjar, dan Yogyakarta cenderung lancar meski terdapat beberapa titik kemacetan, namun tidak terlalu parah dan kendaraan masih bisa merayap.

Kondisi jalur selatan memang kontras dengan Pantura yang padat, gersang dan cenderung berbahaya karena banyak pengemudi bus yang ugal-ugalan.

Pada hari biasa dan saat lalu lintas lancar, ruas jalan tol Cipali yang lurus dan mulus.

Tapi di balik kenyamanan tersebut, sebaliknya menyimpan bahaya karena pengemudi merasa terbuai dan mengantuk.

Sebagian besar kecelakaan yang terjadi di jalur tol Cipali adalah akibat pengemudi yang mengantuk dan kelelahan, sementara jumlah dan fasilitas tempat peristirahat yang ada tidak memadai.

Sebaliknya, jalur selatan yang meski tidak mempunyai infrastruktur jalan tol, menyuguhkan pemandangan yang indah dengan jalan berkelok seperti aliran sungai dan tidak membuat mata mengantuk.

Adrenalin pengemudi, terutama kendaraan pribadi, akan terpacu saat kendaraan yang dikemudikan melintasi sungai, gunung, serta desa-desa yang menyediakan berbagai aneka kuliner khas.

Bagi pemudik sepeda motor, jalur pantai selatan Jawa juga terasa lebih nyaman karena terdapat banyak tempat untuk beristirahat, terutama di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Pertamina.

Sepanjang jalur antara Tasikmalaya sampai Kebumen beberapa hari menjelang Lebaran 2016, puluhan pemudik sepeda motor tampak berjejer di pinggir jalan, menunggu saat berbuka puasa.

Berdasarkan pengalaman mudik melalui jalur tol Cipali dan Pejagan-Brebes yang membawa korban jiwa akibat kelelahan terjebak macet menjelang lebaran, para pemudik diperkirakan akan beralih menempuh jalur selatan Pulau Jawa saat arus balik yang diperkirakan mencapai puncak pada 10 Juli mendatang.

"Tadinya saya berencana untuk balik ke Tangerang dari Malang nanti, tapi melihat kejadian di tol Cipali, saya tetap akan menempuh jalur selatan," kata Wahyudi, pemudik yang membawa rombongan keluarga dengan mobil pribadi.

Tapi Wahyudi berharap agar tidak semua orang mempunyai pikiran yang sama dengannya karena hal itu bisa berarti kemacetan di utara Jawa akan pindah ke selatan.

"Coba bayangkan jika ratusan ribu orang punya pikiran yang sama dan pada saat yang bersamaan memilih jalur selatan," katanya pula.