Saat ini, proses hukum pada Jumiatun kasih berlangsung di Polda Sulawesi Tengah. Penyidik akan menggali keterangan dari wanita tersebut terkait perkara terorisme yang menjeratnya setelah perawatan kesehatan dirinya di RS Bhayangkara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada pasalnya, yakni melindungi dan menyembunyikan buron," ujar Tito.
Saat ini, perburuan sisa-sisa anggota Majelis Mujahidin Indonesia Timur di hutan Poso terus dilakukan. Diperkirakan masih ada 18 orang anak buah Santoso, termasuk dua orang yang diperkirakan bakal jadi pemimpin baru kelompok radikal. Dua orang ini adalah Basri alias Bagong dan Ali Kalora.
Sebanyak 3.000 personel Polri masih berada di Poso untuk menyisir dan memotong jalur pasokan logistik untuk kelompok ini.
"Kami terus menekan tapi juga sambil melakukan upaya persuasif. Kami mengimbau mereka segera turun gunung demi kemaslahatan bersama dan mengikuti proses hukum yang berlaku," kata Tito.
Bekas Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ini juga menjanjikan keringanan hukuman jika mereka mau menyerah dan bekerja sama. (sur/antara)