"Proyek ini jauh dari ideal, orang dari Jepang bilang proyek ini tak bisa dikerjakan," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta, Dono Boestami, kemarin.
Kereta Rangkaian Listrik (KRL) perkotaan atau Urban Railway yang menggunakan sistem persinyalan communication based train control (CBTC) ini nantinya tidak akan membutuhkan kontrol manusia. Secara otomatis, pergerakan kereta akan diatur sistem yang menerapkan jarak antar kereta (head way) dengan waktu tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pekerja melintasi terowongan proyek Mass Rapid Transit (MRT) di Senayan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Proyek MRT fase I, koridor selatan-utara yang menghubungkan Lebak Bulus-Bundaran HI, terdiri dari 13 stasiun dengan tujuh stasiun layang sepanjang 10 kilometer dan enam stasiun bawah tanah sepanjang enam kilometer.
PT MRT menyiapkan 16 set kereta dengan 96 gerbong. Sebanyak 14 set kereta akan beroperasi setiap hari, dua lainnya disiapkan sebagai cadangan.
Lihat juga:MRT Tak Bisa Digunakan Saat Asian Games 2018 |
Kendala Lahan dan Regulasi
Proyek pembangunan MRT di Jakarta dibagi dalam tiga tahap. Tahun 2013 dilalui dengan persiapan proyek. Fase kedua, yakni proses konstruksi, berjalan setahun setelahnya.
Saat ini, proyek itu seharusnya sudah masuk fase ketiga, yaitu operasional dan uji coba. Nyatanya, kata Dono, pengerjaan MRT kini masih berkutat di dua tahap pertama.
"Sekarang masih tahap persiapan, pengurusan lahan baru 90 persen, sisa 10 persen," ucapnya.
Tak hanya perkara lahan, Dono juga mengeluhkan persiapan regulasi. Meski pengerjaan konstruksi sudah mencapai 50 persen, regulasi untuk mengoperasikan sistem MRT belum tersedia.
Dono menyebut, Kementerian Perhubungan perlu membuat sejumlah peraturan yang mengatur sistem persinyalan blok gerak, sistem pengoperasian kereta otomatis, dan sistem pengendalian kereta operasi secara terpusat.
Regulasi itu kini sedang dikaji Direktoran Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.
Pekerja melakukan aktifitas pembangunan Proyek Pengeboran Terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di area Bor Antareja, Stasiun Senayan. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja) |
Lihat juga:Proyek Pembangunan MRT |
Dono berkata, penyerapan dana telah mencapai 30 persen. Dana itu disalurkan ke enam kontraktor yang mengerjakan delapan paket proyek dengan nilai berkisar mulai dari 10 miliar hingga 27 miliar Yen.
"Kami enggak ada pinjaman, yang pinjam negara seratus persen. Arus kas kami masih kosong," ujar Dono.
Lihat juga:Apa Kabar Proyek MRT? |
Permasalahan tarif, menurut Dono, merupakan kebijakan politis. PT MRT sebagai BUMD, kata dia, hanya akan memberi rekomendasi.
Pekerja keluar dari pengerukan bawah tanah stasiun MRT Senayan. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Fase II dari Selatan ke utara yang menghubungkan Bundaran HI dan Ancol akan terdiri dari 12 stasiun. Tahap studi pendahuluan fase itu baru akan dimulai tahun depan.
Catatan redaksi:
Kami melakukan perubahan pada artikel ini tertanggal 2 Agustus 2016 sebagai berikut:
Pada paragraf 1 kalimat ke-2 awalnya ditulis, “Proyek yang sudah dicanangkan sejak 1986 itu baru akan selesai pada 2019.”
Diubah menjadi, “Proyek yang sudah dicanangkan sejak 1986 itu baru akan selesai pada 2019 karena pekerjaan sipil (groundbreaking) baru dimulai tahun 2013.”
Paragraf 3 kalimat 1 awalnya ditulis, “Kereta cepat yang menggunakan sistem persinyalan communication based train control (CBTC) ini ….”
Diubah menjadi, “Kereta Rangkaian Listrik (KRL) perkotaan atau Urban Railway yang menggunakan sistem persinyalan communication based train control (CBTC) ini ….”
Paragraf 14 kalimat 1 sebelumnya ditulis, “Pemprov dan DPRD DKI Jakarta perlu membuat sejumlah peraturan yang mengatur sistem persinyalan…”
Diubah menjadi, “Kementerian Perhubungan perlu membuat sejumlah peraturan yang mengatur sistem persinyalan…”
Perubahan kami lakukan atas permintaan Corporate Secretary PT MRT Jakarta Tb Hikmatullah. (abm)

Pekerja melakukan aktifitas pembangunan Proyek Pengeboran Terowongan Mass Rapid Transit (MRT) di area Bor Antareja, Stasiun Senayan. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)