Penerapan Sekolah 'Full Day' Dinilai Masih Banyak Kekurangan

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 09/08/2016 19:56 WIB
Penerapan Sekolah 'Full Day' Dinilai Masih Banyak Kekurangan Siswa-siswa berlarian saat jam istirahat di Madrasah Al Ihsan Pamulang, Tangerang Selatan, Selasa, 9 Agustus 2016. (CNN Indonesia/Gautama Padmacinta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Pendidikan Andreas Tambah menyatakan sistem belajar sekolah sehari penuh atau full day school (FDS) masih memiliki banyak kekurangan dalam pelaksanaanya.

Menurut Andreas, pemerintah harus bisa mengkaji dan meninjau secara holistik pengaruh yang akan timbul dari penerapan sistem belajar FDS baik bagi siswa, guru, dan orang tua.

"Ide (FDS) jangan sampai hanya menjadi latah menteri baru. Karena sekolah di luar negeri dan swasta banyak terapkan ini lalu pemerintah meniru tanpa ada kajian mendalam. Ini sangat riskan," kata Andreas kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (9/8).


Andreas tak menampik jika konsep FDS ini memberikan manfaat pada siswa. Sepulang sekolah, siswa sudah terbebaskan dari beban tugas dan pekerjaan rumah. Seluruh tugas telah dituntaskan selama berada di sekolah.

Namun, tutur Andreas, konsep FDS perlu didukung dengan fasilitas sekolah yang memadai. Setiap sekolah harus bisa memastikan jika sarana prasaran dan infrastrukturnya memadai sehingga siswa merasa nyaman berlama-lama di sekolah.

Menurut Andreas, konsep sekolah sehari penuh berarti memberikan beban tanggung jawab yang lebih besar kepada sekolah dalam mendampingi anak. Sebagian waktu anak dihabiskan di sekolah. Sekolah juga perlu memastikan segala  kebutuhan siswa terpenuhi seperti asupan makan selama di sekolah dan ruang beristirahat yang layak bagi anak.

Andreas menuturkan, sekolah harus dirancang sedemikian rupa bagi kenyamanan siswa dan guru di sekolah. "Kalau dipaksakan jalan (FDS) sementara sekolah-sekolah tidak memadai, ini hanya akan menimbulkan penyiksaan baru bagi siswa dan guru," katanya.

Menurut Andreas, konsep FDS juga mempersempit ruang interaksi siswa dengan lingkungan di luar sekolah seperti keluarga dan teman-temannya. Anak-anak butuh berinteraksi dengan teman sebaya di sekolah, di lingkungan tempat tinggal, dan dengan keluarga di rumah.

Andreas menyatakan, penerapan kebijakan FDS juga mengurangi intensitas pertemuan dan interaksi anak bersama orang tua. Dengan kondisi yang letih sepulang sekolah, anak tidak bisa mengoptimalkan interaksi mereka dengan orang tua.

Pendidikan anak, tutur Andreas, seolah dibebankan kepada sekolah, padahal orang tua jutru mengemban peran penting dalam pendidikan anak.

"Tidak semua orang tua bekerja sampai sore sehingga perlu bantuan lain (sekolah) untuk memantau kegiatan anaknya,"

Menurut Andreas, nasib guru pun dipertaruhkan jika konsep FDS ini diterapkan. Beban waktu bekerja guru untuk mengajar menjadi lebih panjang lagi. Selain itu guru juga memiliki tugas lain selain membimbing dan mengajar siswa di kelas.

Guru, kata Andreas, juga harus membuat rencana mengajar dan mebuat penilaian siswa yang akan memakan waktu kerja guru melebihi kapasitas yang seharunsya.

Andreas mencontohkan, jika sekolah memulai pembelajaran sekitar pukul 7 pagi dan selesai hingga pukul 4 atau 5 sore, waktu bekerja guru bisa melebihi jam kerja karyawan biasanya.

"Disini berdampak pada hak seorang guru yang harus antisipasi pemerintah sebelum terapkan FDS. Guru juga punya keluarga dan anak di rumah yang harus diperhatikan," kata Andreas.

Karena itu, Andreas menegaskan, usulan sistem pembelajaran sehari penuh sudah sepatutnya dikaji mendalam berdasarkan riset kebutuhan dan temuan masalah di lapangan yang dalam hal ini harus melibatkan guru dan anak didik. "Jangan sampai hanya ikut-ikutan sementara fasilitas (sekolah) tidak siap. Jangan menjadikan anak-anak sebagai objek kebijakan," katanya.

(obs/obs)




BACA JUGA