Anak Petani Emoh Jadi Petani

Anugerah Perkasa & Cheryl Manuela, CNN Indonesia | Kamis, 11/08/2016 14:50 WIB
Anak Petani Emoh Jadi Petani Minat anak muda dinilai semakin rendah terhadap sektor pertanian karena dianggap sebagai pekerjaan yang tak menjanjikan di masa mendatang. (CNNIndonesia.com/Yuliyanna Fauzi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Minat anak muda dinilai semakin rendah terhadap sektor pertanian karena dianggap sebagai pekerjaan yang tak menjanjikan di masa mendatang dan terus berada dalam kemiskinan.

Hal itu disampaikan bersamaan oleh Oxfam Indonesia dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP). Direktur Keadilan Ekonomi Oxfam Indonesia Dini Widiastuti menuturkan jumlah rumah tangga petani berkurang 5 juta dalam kurun waktu 2003—2013 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

“Angka ini cukup besar dan berimplikasi bagi keberlanjutan sektor pertanian Indonesia,” kata Dini dalam diskusi peluncuran Duta Petani Muda di Jakarta, Kamis (11/8).
Dia memaparkan petani pun kini semakin menua sedangkan jumlah petani muda semakin menurun. Sensus Pertanian 2013 menyatakan usia petani di atas 45 tahun mencapai 60,8 persen dengan pendidikan terbesar adalah tingkat SD yakni 73,97 persen.


Dini menegaskan rendahnya minat anak muda terhadap profesi petani karena mereka menilai profesi tersebut dianggap tak menjanjikan. Selain itu, katanya, petani juga dianggap selalu bergelut dengan kemiskinan.

Oxfam Indonesia menyatakan padahal banyak anak-anak muda yang maju dengan usaha pertaniannya. Menurut Dini, hal itu dikarenakan dengan semakin meningkatnya pangan dunia.

Said Abdullah, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), mengatakan sebanyak 63 persen anak petani padi tak ingin mereka menjadi petani. Kajian KRKP juga menemukan sekitar 54 persen anak petani hortikultura tak menginginkan diri mereka menjadi petani.

“Situasi ini mendorong penurunan tenaga kerja pertanian yang berkurang sebanyak 3,15 juta orang dalam kurun 2010 -2014,” kata Said dalam diskusi tersebut.

Dia menuturkan kajian itu menunjukkan akses dan paparan informasi tentang pertanian sangat rendah di kalangan anak muda. Hal itu, sambungnya, dikarenakan pertanian masih dipandang sebagai sektor yang tidak menguntungkan.

Oleh karena itu, sejumlah organisasi masuk ke dalam Jaringan AgriProFocus Indonesia untuk memotivasi para pemuda agar bergelut di sektor pertanian. KRKP maupun Oxfam Indonesia menekankan upaya peningkatan pengetahuan generasi muda tentang pertanian dan pembenahan pendidikan pertanian.

Jaringan itu itu juga meluncurkan www.dutapetanimuda.org sebagai salah satu upaya merangkul para pemuda untuk terus bertani. (asa)