“Kemungkinan itu hanya sebagai modus. Dulu enggak ada Perpustakaan Jalanan. Sekarang dengan berbagai modus dan alasan, mereka (geng motor) mengatasnamakan macam-macam, termasuk perpustakaan jalanan,” kata Wuryanto kepada CNNINdonesia.com, Selasa (23/8).
Perwira tinggi bintang satu ini tak menyebut secara pasti landasan hukum yang dipakai Kodam dalam membubarkan aktivitas komunitas Perpustakaan Jalanan. Dia beralasan, pembubaran itu untuk mencegah kriminalitas yang dilakukan geng motor di Bandung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mempertanyakan sasaran pembaca yang ditarget Perpustakaan Jalanan pada malam hari. Apalagi, kata Wuryanto, mereka menggelar aktivitasnya di tempat yang sepi dan gelap. Bahkan dia menyangsikan buku yang disediakan di perpustakaan itu.
“Boleh saja beralasan, mencari alibi, tapi kenyataannya siapa yang disasar perpustakaan tengah malam sampai pagi, siang katanya kerja, capek-capek melaksanakan itu,” ucap dia.
Wuryanto mengatakan, penertiban yang dilakukan Kodam telah berjalan sejak tiga bulan lalu. Dia menyebut pihaknya selalu berkoordinasi dengan Polri. Namun Wuryanto baru mengetahui ada Perpustakaan Jalanan pada hari itu. Pembubaran langsung dilakukan Kodam karena menganggap mereka bagian dari geng motor.
“Geng motor sudah bertahun-tahun tidak pernah tuntas, korban selalu berjatuhan,” katanya.
“Tindakan demikian mengancam kehidupan sipil. Perlu digarisbawahi, TNI sama sekali tidak berwenang melakukan penertiban masyarakat sipil,” tulis Indra, penggiat Perpustakaan Jalanan dalam keterangan pers.