Kodam Siliwangi Tuduh Perpus Jalanan Modus Geng Motor Bandung

Prima Gumilang, CNN Indonesia | Selasa, 23/08/2016 19:03 WIB
Pihak Kodam Siliwangi meyakini keberadaan Perpustakaan Jalanan hanyalah modus yang dilakukan geng motor dalam melakukan kegiatannya di malam hari. Ilustrasi perpustakaan keliling. (Antara Foto/Aloysius Jarot Nugroho)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Staf Komando Daerah Militer III/Siliwangi Brigjen TNI Wuryanto menyebut kegiatan Perpustakaan Jalanan yang beroperasi pada malam hari merupakan modus baru geng motor di Bandung. Oleh karena itu Kodam membubarkan aktivitas komunitas itu pada Sabtu pekan lalu.

“Kemungkinan itu hanya sebagai modus. Dulu enggak ada Perpustakaan Jalanan. Sekarang dengan berbagai modus dan alasan, mereka (geng motor) mengatasnamakan macam-macam, termasuk perpustakaan jalanan,” kata Wuryanto kepada CNNINdonesia.com, Selasa (23/8).
Wuryanto mengatakan, aksi geng motor di Kota Kembang itu makin meresahkan warga. Selama ini, modus yang digunakan juga beragam. Modus lain, kata dia, kegiatan karya bakti pada malam hari.

Perwira tinggi bintang satu ini tak menyebut secara pasti landasan hukum yang dipakai Kodam dalam membubarkan aktivitas komunitas Perpustakaan Jalanan. Dia beralasan, pembubaran itu untuk mencegah kriminalitas yang dilakukan geng motor di Bandung.


“Ini panggilan. Warga Bandung resah dengan geng motor. Kodam dalam melakukan penertiban selalu berpengan pada kepentingan masyarakat Jawa Barat,” ujarnya.

Dia mempertanyakan sasaran pembaca yang ditarget Perpustakaan Jalanan pada malam hari. Apalagi, kata Wuryanto, mereka menggelar aktivitasnya di tempat yang sepi dan gelap. Bahkan dia menyangsikan buku yang disediakan di perpustakaan itu.

"Bukunya apa yang disajikan, hanya beberapa biji. Buku itu hanya untuk syarat kalau dia kelompok jalanan. Dicek saja ke masyarakat apa pernah merasa terbantu dengan adanya Perpustakaan Jalanan tengah malam,” katanya.
Wuryanto berpendapat, jika kegiatan melapak buku gratis itu memang ditujukan untuk membantu masyarakat dalam mengakses buku, seharusnya Perpustakaan Jalanan dilakukan pada siang hari. Dia menilai aktivitas perpustakaan pada malam hari hanya alasan geng motor.

“Boleh saja beralasan, mencari alibi, tapi kenyataannya siapa yang disasar perpustakaan tengah malam sampai pagi, siang katanya kerja, capek-capek melaksanakan itu,” ucap dia.

Wuryanto mengatakan, penertiban yang dilakukan Kodam telah berjalan sejak tiga bulan lalu. Dia menyebut pihaknya selalu berkoordinasi dengan Polri. Namun Wuryanto baru mengetahui ada Perpustakaan Jalanan pada hari itu. Pembubaran langsung dilakukan Kodam karena menganggap mereka bagian dari geng motor.

“Geng motor sudah bertahun-tahun tidak pernah tuntas, korban selalu berjatuhan,” katanya.
Para penggiat Perpustakaan Jalanan mengecam penertiban yang dilakukan oleh TNI. Mereka menyatakan pembubaran kegiatan masyarakat sipil oleh TNI bukan kali ini terjadi. Bahkan pembubaran itu disertai tindakan intimidatif dan represif.

“Tindakan demikian mengancam kehidupan sipil. Perlu digarisbawahi, TNI sama sekali tidak berwenang melakukan penertiban masyarakat sipil,” tulis Indra, penggiat Perpustakaan Jalanan dalam keterangan pers.
(gil/agk)
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK