Otoritas teritorial TNI Angkatan Darat di Jawa Barat itu mendasarkan tindakan mereka pada peraturan jam malam yang diatur kepolisian dan Pemkot Bandung.
Senin (22/8) kemarin, para pegiat Perpustakaan Jalanan mempublikasikan peristiwa tersebut bersama pengacara publik dari Lembaga Bantuan Hukum Bandung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka membawa senjata api dan pentungan rotan. Turun dari kendaraan, mereka membubarkan kerumunan orang di Taman Cikapayang sambil berteriak dan membentak dengan kasar," tulis Indra, pegiat Perpustakaan Jalanan dalam keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com.
Melalui keterangan tertulisnya, Ariyanto menyebut aktivitas literasi yang digagas Perpustakaan Jalanan meresahkan dan menjurus ke kegiatan negatif. Ariyanto mempertanyakan kegiatan perpustakaan yang dilaksanakan malam hari dan di tempat publik.
Kodam Siliwangi menduga kegiatan yang berlangsung hingga larut malam dapat memantik tindakan negatif, serupa dengan apa yang kerap dilakukan geng motor.
Selain itu, Kodam Siliwangi juga meragukan substansi buku yang disediakan Perpustakaan Jalanan.
"Apakah benar buku-buku tersebut adalah buku yang diizinkan untuk dibaca oleh kaum muda atau malah buku yang di dalamnya berisi topik yang tidak sesuai," tulis Ariyanto.
Gerakan Literasi
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil melalui akun Instagram resminya, Selasa (23/8), menyampaikan penyesalan atas pembubaran Perpustakaan Jalanan. "Semoga kejadian tersebut tidak terulang lagi di masa depan," ucapnya.
Ridwan mengatakan, Pemkot Bandung saat ini sedang berupaya meningkatkan budaya literasi kepada seluruh warganya. Ia pun mengajak masyarakat untuk melanjutkan gerakan membaca tersebut.
"Mari terus membaca karena buku adalah jendela dunia," tuturnya.
Adapun, Perpustakaan Jalanan merupakan inisiatif sejumlah kelompok pemuda memindahkan buku ke jalan-jalan di Kota Bandung. Komunitas yang berdiri tahun 2010 itu merasa cara itu efektif mendekatkan buku pada masyarakat. (abm/asa)